Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Senandika

Pertama kali aku melihatmu, aku tak pernah menyangka akan sedekat ini. Berhari-hari kita berada di tempat dan waktu yang sama. Melakukan kegiatan yang sama. Tapi tak pernah sekalipun berbincang. Hingga waktu mulai jengah dan mencoba memaksa kita untuk saling menyapa. Berawal dari candaan yang kamu ciptakan, aku tertawa lepas tanpa peduli kedekatan yang tercipta. Dan waktu masih terus mempererat kita agar semakin menciptakan kenangan bahagia.  Maka hampir setiap hari, aku dan kamu tak pernah untuk saling diam. Kita yang sama-sama berisik membuat segala suasana tak lagi sepi. Ejekanmu yang menyebalkan, malah membuatku selalu ketagihan. Kita masih sebatas teman, tapi aku mulai nyaman. Tapi tak sedikitpun aku berharap lebih padamu, karena aku tau sejak awal siapa dirimu. Aku hanya bahagia jika bersamamu, bercanda denganmu dan tertawa bersama. Kamu juga begitu, selalu baik denganku seolah aku adik kecilmu. Suatu hari kita pergi bersama, menikmati waktu yang kamu bilang itu ...

Entah Rindu atau Rela

Cukup sampai di sini saja kisahnya.  Jangan meminta lagi tentang rasa.  Karena semua sudah tak ada. Kini tinggal masing-masing mengukir cerita. Berbeda tentu saja. Dan untuk orang yang tak sama. Karena kini waktu mulai bicara. Pada embus angin yang rela. Di balik gunung ini, kisah kita mulai berawal. Dan kuingin, kisahnya tak akan berakhir. Tapi takdir berkata lain. Hingga hari ini pun datang, hari dimana semua kisah harus diakhiri. Tapi satu yang harus kamu ketahui disini ada hati yang selalu bersamamu. Dan mulai sekarang, biarkan waktu yang meneruskan bagiannya. Andai saja waktu dapat aku putar kembali, aku ingin kisah ini takkan pernah berakhir secepat ini, walaupun harus berakhir biarlah berakhir dengan semestinya. Sudah banyak kisah yang telah dilalui, sekarang giliranku untuk mengenang cerita ini. Kisah yang dimana kau dan aku hampir menjadi KITA. Karena hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau m...