Senandika
Pertama kali aku melihatmu, aku tak pernah menyangka akan sedekat ini. Berhari-hari kita berada di tempat dan waktu yang sama. Melakukan kegiatan yang sama. Tapi tak pernah sekalipun berbincang. Hingga waktu mulai jengah dan mencoba memaksa kita untuk saling menyapa. Berawal dari candaan yang kamu ciptakan, aku tertawa lepas tanpa peduli kedekatan yang tercipta. Dan waktu masih terus mempererat kita agar semakin menciptakan kenangan bahagia. Maka hampir setiap hari, aku dan kamu tak pernah untuk saling diam. Kita yang sama-sama berisik membuat segala suasana tak lagi sepi. Ejekanmu yang menyebalkan, malah membuatku selalu ketagihan. Kita masih sebatas teman, tapi aku mulai nyaman. Tapi tak sedikitpun aku berharap lebih padamu, karena aku tau sejak awal siapa dirimu. Aku hanya bahagia jika bersamamu, bercanda denganmu dan tertawa bersama. Kamu juga begitu, selalu baik denganku seolah aku adik kecilmu. Suatu hari kita pergi bersama, menikmati waktu yang kamu bilang itu ...