Maafkan aku, karena setiap malam menjemput, setiap senja mulai berpamitan, setiap rembulan mulai mengintip pelan-pelan, aku masih merindukanmu. Bukan perkara mudah untuk cepat-cepat berpaling darimu, yang sungguh-sungguh aku titipkan rasa untuk dijaga. Namun, sayangnya aku salah memilih orang. Karena kamu sejak awal memang hanya ingin singgah. Tak ingin lama-lama, untuk menggenggam hal yang seharusnya tidak kamu miliki. Tapi, untuk apa janji-janji yang kamu ucapkan waktu itu? Di depan kios kosong, saat kita berdua menyelamatkan diri dari kebasahan yang tak nyaman. Kamu bilang membahagiakanku? Untuk apa semua itu, kalau hasilnya kado terindah yang kamu beri, hanya rasa sakit yang paling tidak tahan untuk aku pegangi. Atau memang definisi bahagia dalam kepala kita berbeda? Apa memang bahagia yang kamu maksud adalah melihatku menitikkan air mata di hadapanmu yang dengan tidak berdosanya menggenggam perempuan itu? Lalu, untuk apa waktu-waktu yang kamu relakan ...