Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Asing

Apa kamu masih ingat? di pinggir jalan, di depan gang, di bawah rembulan malam, kita bersama. Berbincang tentang banyak hal, mengutuk kebosanan yang telah kurang ajar bertamu ke hatimu. Bukankah tawa malam itu terasa sangat nyata? bahkan serangga malam takut keluar mengganggu kebahagiaan kita Tapi, secepat itukah aku menjadi asing di matamu?

Hanya Ingin Nyata

Aku pernah mendengar dari seorang kawan tentang alasanmu memilih dia. Aku tersenyum, aku sadar bahwa dia memang yang terbaik untukmu. Aku tahu, Tuhan tak pernah salah mewujudkan inginmu. Jika dia sudah sesuai dengan doa-doamu. Bukankah tak perlu lagi merasa takut? Kenapa kamu masih takut denganku? Aku tak lagi ingin hatimu, harusnya kamu tahu itu. Aku hanya inginkan ada, aku hanya ingin terlihat nyata di depanmu. Bukan seperti hantu yang kau lewati begitu saja. Dengan begitu aku semakin sulit melepasmu, karena semakin tinggi pula harapku terlihat olehmu. Jadi, masih salahkah aku jika begini? Aku tahu, kamu tak akan mau menjawabnya.

Tanpa Alasan

Mungkin saja, jika fajar tak segera bertamu pagi ini.  Aku tak akan berhenti larut dalam dimensi tentangnya. Tentang segala kenang yang tak pernah sekalipun absen untuk mengejekku. Bersamaan dengan genangan sisa hujan semalam, aku curahkan sesal pada sang surya. Karena bagaimana bisa aku terjaga semalaman hanya perkara rindu yang tak bertuan, hanya karena rasa dalam diam, yang diam-diam dengan tidak sopannya mengutuki diriku yang masih saja kalah olehnya. Oleh semua yang ada pada dirinya, semua kisah yang melekat dalam kisah-kisah bersamanya. Oleh dia, yang menjadi tempatku pulang kala itu. Oleh dia, yang kini telah menjadi rumah tetap untuk tamu yang baru saja datang karena undangan darinya. Sedangkan aku, tak lagi dipedulikan dan dibiarkan hanya sekedar singgah tanpa ingin dicegah pergi. Dan rintik hujan semalam juga tahu, bagaimana aku pernah sebegitu berharga dalam ceritanya, menjadi bagian termanis untuk dongeng di hadapan teman-temannya. Di mana sekarang letak keindahan itu? ...

Maafkan Aku

Maafkan aku, karena setiap malam menjemput, setiap senja mulai berpamitan, setiap rembulan mulai mengintip pelan-pelan, aku masih merindukanmu. Bukan perkara mudah untuk cepat-cepat berpaling darimu, yang sungguh-sungguh aku titipkan rasa untuk dijaga. Namun, sayangnya aku salah memilih orang. Karena kamu sejak awal memang hanya ingin singgah. Tak ingin lama-lama, untuk menggenggam hal yang seharusnya tidak kamu miliki. Tapi, untuk apa janji-janji yang kamu ucapkan waktu itu? Di depan kios kosong, saat kita berdua menyelamatkan diri dari kebasahan yang tak nyaman. Kamu bilang membahagiakanku? Untuk apa semua itu, kalau hasilnya kado terindah yang kamu beri, hanya rasa sakit yang paling tidak tahan untuk aku pegangi. Atau memang definisi bahagia dalam kepala kita berbeda? Apa memang bahagia yang kamu maksud adalah melihatku menitikkan air mata di hadapanmu yang dengan tidak berdosanya menggenggam perempuan itu? Lalu, untuk apa waktu-waktu yang kamu relakan ...

Aku Berbohong Lagi

Menjelang senja aku kembali pada rutinitas yang sebenarnya membuang-buang waktu. Aku biasa menyebutnya rebahan, posisi paling nyaman ketika sejak pagi sudah disuguhkan dengan aktivitas dan kalimat-kalimat yang melelahkan. Walaupun begitu, rebahan selalu memberi banyak pembelajaran. Sambil bercengkerama dengan bantal guling serta selimut hangat, ditemani hujan gerimis yang terdengar di luar jendela. Bayangan-bayangan tentang masa lalu mulai berseliweran. Kata demi kata saling bersautan di dalam kepalaku, peristiwa-peristiwa mulai menusuk kembali hatiku. Bagaimana tidak? Sesuatu yang selama ini kusembunyikan, akhirnya keluar juga. Setelah kebiasaan berganti topeng setiap hari, kini aku kembali terpojokkan oleh kenangan pahit yang harusnya sudah tak kubawa lagi. Sesuatu yang klise, tentang jatuh cinta dengan sahabat. Membosankan memang, karena banyak sekali yang meributkan. Tapi, apa boleh buat? Yang sekarang sedang kembali menggangguku adalah hal menyebalkan itu. Ya, dia ada...