Tanpa Alasan
Mungkin saja, jika fajar tak segera bertamu pagi ini. Aku tak akan berhenti larut dalam dimensi tentangnya. Tentang segala kenang yang tak pernah sekalipun absen untuk mengejekku. Bersamaan dengan genangan sisa hujan semalam, aku curahkan sesal pada sang surya. Karena bagaimana bisa aku terjaga semalaman hanya perkara rindu yang tak bertuan, hanya karena rasa dalam diam, yang diam-diam dengan tidak sopannya mengutuki diriku yang masih saja kalah olehnya. Oleh semua yang ada pada dirinya, semua kisah yang melekat dalam kisah-kisah bersamanya. Oleh dia, yang menjadi tempatku pulang kala itu. Oleh dia, yang kini telah menjadi rumah tetap untuk tamu yang baru saja datang karena undangan darinya. Sedangkan aku, tak lagi dipedulikan dan dibiarkan hanya sekedar singgah tanpa ingin dicegah pergi. Dan rintik hujan semalam juga tahu, bagaimana aku pernah sebegitu berharga dalam ceritanya, menjadi bagian termanis untuk dongeng di hadapan teman-temannya. Di mana sekarang letak keindahan itu? ...