Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Fra (Saatnya Membuka Kunci Luka Ini)

Kali ini aku percaya Fra, ketika segenggam luka tidak terlalu digenggam maka ia akan terlepas sendirinya. Begitu pula dengan sekotak luka yang pernah kamu hadiahkan padaku waktu hujan terakhir di hari Minggu sebelum perpisahan itu. Dulu aku menyimpannya rapat, menyembunyikan kuncinya, dan menutupi rupanya, agar orang-orang tidak pernah menemukannya. Karena aku hanya ingin kamu seorang, hanya ingin kamu yang membukanya dan mencoba menyembuhkannya. Namun, sampai saat aku menulis kalimat tadi, belum ada tanda-tanda kamu akan kembali, bahkan bayangmu tidak pernah kelihatan lagi setelah kamu memaksaku untuk menghentikan semua perasaan itu.  Dan apa kau tau Fra? Setelah beberapa kali aku tertampar kenyataan, aku masih terus-terusan berkhayal untuk selalu berada di sampingmu. Kalaupun harus jauh darimu, aku hanya ingin sebatas ujung penglihatan matamu. Karena memang begitulah rasaku padamu, ketika kamu meminta hatiku untuk pertama kalinya, aku langsung memberimu semuanya tanpa tersisa. Ka...

Kotak Surat

Sepucuk surat terkirim sore itu, aku titipkan pada burung camar yang melintas di langit dekat jendelaku. Aku harap suratnya sampai ke kamu, soalnya isinya penuh rindu. Tadinya aku mau titipkan ke tukang pos yang setiap pagi lewat di jalanan depan rumahku, tapi aku malu soalnya tukang posnya kenalan ayahku. Kamu tahu kan aku ini pemalu, sampai aku malu memikirkan wajahmu ketika tik-tok jam berbunyi di meja belajarku. Aku takut ia mengadu pada ibu, karena ibu suka sekali mengejekku.  Surat itu aku tulis dini hari tadi. Aku tulis semua kata yang mampir di kepalaku ketika merindukanmu, tak ada yang aku lewatkan bahkan satu katapun. Jadi, saat kamu membaca dan kalimatnya terlalu mengada-ngada jangan ditertawakan, karena aku malu. Pukul setengah lima tadi aku sudah sampai pada paragraf kedua, tidak butuh waktu lama untukku menyelesaikan paragraf pertama karena isinya hanya tentang menanyakan kabarmu di kota yang jauh di sana. Yang ini agak susah, karena aku harus menceritakan padamu ap...

Fra (Sebuah Catatan)

Dinding rumahku lembab, pecah-pecah, dan sepertinya minta dicat ulang. Dulu warnanya biru muda, sekarang sudah pudar jadi abu-abu. Ya, abu-abu. Seperti dirimu yang kini entah seperti apa keadaannya. Yang ingin kutemui walau hanya di sela-sela mimpi, yang ingin kutemui walau sebatas gambaran kenangan masa lalu.    Aku tidak suka abu-abu, aku lebih suka merah jambu atau cokelat madu. Tapi kamu tidak begitu, aku jadi bingung sebenarnya suka kamu atau sekedar mengagumi senyummu. Tepat sore itu, ketika senja tak kelihatan batang hidungnya, karena mendung lebih dulu berpesta, aku duduk di jok belakang sepeda motormu. Menggenggam erat kemeja kotak-kotak warna abu-abu yang kamu kenakan tanpa jaket kesukaanmu, karena jaketnya sudah membalut tubuhku, mengamankan gaun biru mudaku. Sedang hujan deras. Kita kebasahan, dan kamu keras kepala tidak ingin berteduh sebentar. Padahal sebenarnya aku sedikit lapar. Katamu, “aku suka bersamamu saat hujan, dengan begitu aku tidak takut lagi kenanga...

Apa kabar?

Sedang gerimis malam ini, lampu-lampu jalan terlihat sendu. Udara malam perlahan memeluk tubuh ini, meninggalkan kekosongan yang begitu menyakitkan. Apa kabar kamu? Laki-laki yang dulu pernah mengorbankan jaket kesayangannya untuk menahan hujan agar tidak berani mengecupku. Laki-laki yang memaki angin, hingga ia tak sempat mencolek sedikitpun tubuh mungilku. Harapanku selalu sama, semoga kamu baik-baik saja. Dari dulu, sampai sekarang. Dari saat di mana kamu menorehkan luka-luka yang tak berbekas namun sakitnya bertahan sampai sekarang, aku masih selalu berharap kamu baik-baik saja.  Sekarang pukul delapan malam tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Aku menatap rintik yang jatuh, yang awalnya pelan hingga kencang dan penuh kegaduhan. Anehnya, aku masih merasa kosong. Entah itu karena aku sedang sendiri, atau karena hatiku telah kamu bawa lari? Sepertinya, alasan kedua lebih tepat, atau dua-duanya memang tepat. Aku tarik selimut yang sempat aku lemparkan jauh dari kakiku, tadinya...

Fra (Rasa yang Tak Pernah Nyata)

Pada senja yang terus-terusan mengetuk kaca jendelaku, aku memohon. Menyampaikan padamu agar sebentar saja mengijinkanku menatap matamu. Walau hanya sebatas mimpi singkat ketika aku ketiduran sebelum malam. Sederhana bukan? Bagaimana bisa kamu terlalu pelit untuk mewujudkannya? Apakah hal sederhana itu terlalu mahal Fra? Untuk aku yang memang bukan menjadi arah tujuan pelabuhanmu. Tapi, dalam sebuah perjalanan selalu ada tempat untuk singgah kan? Kenapa tak kamu jadikan aku sesuatu seperti itu? Walau hanya singgah, setidaknya aku bisa melepas lelahmu. Bukan begitu Fra? Tentu saja jawaban yang kamu berikan hanya senyuman. Aku sudah hapal betul pada tingkahmu. Terlalu sulitnya menggapai dirimu, hingga kata-kata bahkan tidak betah ke luar dari mulutmu. Ketahuilah Fra, bahkan sampai berkali-kali aku menangis karena merindukanmu. Tak sedikitpun aku bisa melupakan perasaanku yang dengan tidak sopan telah kusematkan padamu. Dan tak ada sedikitpun sesal yang datang padaku, karena ia tahu aku b...

Fra (Sebuah Kepingan)

  Pada terik yang mengantarkan senyum di wajahmu, aku sungguh-sungguh ingin mengabarkan. Bahwa kepergianmu yang terjadi satu hari setelah hari Minggu adalah sama  sekali bukan salahmu. Karena sejak awal aku memang tidak punya hak untuk membuatmu tinggal. Aku bukan rumah, jadi tidak heran kalau kamu tidak menjadikanku alasan untuk pulang. " Bukankah pulang belum tentu selalu menuju rumah?"  Tanya seekor burung Dara yang suka bertengger di ranting pohon dekat jendela kamarku. Kamu tau apa jawaban yang aku berikan? Tentu saja aku diam, karena tanpa dirimu, tak ada kata yang berhasil menjadi kalimat. Semua jadi samar-samar dan hanya mengambang di udara lalu hilang bersama angin yang juga membawa dedaunan kering bermigrasi. Ketika malam telah mengintip lewat lubang kecil di tembok kamarku, aku baru menyadari, bahwa seharian ini tak ada apapun yang kulakukan selain mengingat kepergianmu, yang tentu saja hanya menjadi kisah pilu bagiku. Karena bagi dirimu, itu bukan sebuah keper...