Petrikor
Tak kulihat senja hari ini, hanya semilir angin dingin dan langit kelabu. Bersama secangkir teh hangat di tangan kananku, aku melamun. Membayangkan kisah sedih di masa lalu, berbagai adegan menyakitkan saling beradu. Lalu tanpa ucapan salam, gerimis datang perlahan. Membantu menciptakan suasana patah hati yang tak terbendung. Tapi aku suka aroma ini, aroma yang khas dan menenangkan. Petrikor. Aroma hujan. Yang kini mengantarku pada kenangan bersamanya. "Kenapa kau suka keluar saat hujan?" katanya setelah melihatku berlari menuju teras saat gerimis datang. Dia hanya diam sambil ikut menarik nafas bersamaku. Entah mengapa, bagiku aroma hujan adalah obat. Dia bisa mengobati segala luka yang aku rasakan, apapun itu. "Apa kau masih suka aroma hujan?" tanyanya saat aku kembali berlari keluar saat hujan datang. Aku hanya mengangguk sambil menutup mata. "Kalau kau harus memilih, kau pilih mana antara aku dan aroma hujan?" tanyanya sambil tersenyum me...