Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2018

Petrikor

Tak kulihat senja hari ini, hanya semilir angin dingin dan langit kelabu. Bersama secangkir teh hangat di tangan kananku, aku melamun. Membayangkan kisah sedih di masa lalu, berbagai adegan menyakitkan saling beradu. Lalu tanpa ucapan salam, gerimis datang perlahan. Membantu menciptakan suasana patah hati yang tak terbendung. Tapi aku suka aroma ini, aroma yang khas dan menenangkan. Petrikor. Aroma hujan. Yang kini mengantarku pada kenangan bersamanya. "Kenapa kau suka keluar saat hujan?" katanya setelah melihatku berlari menuju teras saat gerimis datang. Dia hanya diam sambil ikut menarik nafas bersamaku. Entah mengapa, bagiku aroma hujan adalah obat. Dia bisa mengobati segala luka yang aku rasakan, apapun itu.  "Apa kau masih suka aroma hujan?" tanyanya saat aku kembali berlari keluar saat hujan datang. Aku hanya mengangguk sambil menutup mata.  "Kalau kau harus memilih, kau pilih mana antara aku dan aroma hujan?" tanyanya sambil tersenyum me...

Ya!

sungguh... aku muak dengan ocehan serupa suara-suara kosong yang terus bersua seperti pertunjukan gulat, berdalih untuk menjadi kuat berpacu tuk jadi yang paling erat nyatanya... semua palsu tanpa jiwa hampa tanpa rasa yang ada hanya tawa... bukan bahagia bukan setia tapi olokan... bagi yang kau anggap pecundang ya!

Kopi Hitam

Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya.  Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana...