Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ini Aku

aku memang bukan manusia berambisi aku bukan pula pengejar reputasi aku hanya sebuah ilusi manusia sederhana pengejar mimpi berulang kali kau temukan sebagai penari mencoba meraih hati yang enggan kemari dalam setiap isi kuakan terus mendaki tuk buktikan bahwa rasaku sejati

Ending

dalam balutan senja sore itu kau buatku tertegun oleh tatapmu hingga ku tak ingin menghentikanmu tuk tetap tenang berada di sampingku begitu sunyi kala itu hanya debar jantung yang terus beradu apakah cinta telah bertamu? pada dua hati yang akhirnya bersatu

Note

kumulai perjalanan dari sampul bukuku tersusun rapi kalimat tentangmu kutulis segala kisahku yang pasti terselip dirimu lembar per lembar saling menyatu saat kamu berdiri di depan pintu menjabat lembut tanganku tersebut pertama kali namamu kupanggil kau biru pemburu senyum masa lalu lambat laun menyerap abu dan melebur satu menjadi catatan kesukaanku

Monokrom

saat ku berjalan di ruang tanpa warna melata dan tak tau arah kanan kiri hanya hitam dan putih monokrom. tak ada sekat, tak ada ujung, tak ada pula jalan keluar. kuhanya percaya intuisi berjalan dan terus berjalan kupandang terus ke depan hanya tuk mencari satu benda sebuah hati. yang tak tau apakah ku akan bertemu tapi ku terus mengalir seperti air sungai yang tak pernah tau kapan sampai hingga suatu saat kuberhenti bukan menyerah tapi karena lelah

Jatuh Cinta

cinta itu tak tau kapan datangnya seperti apa kata pujangga yang sering didengar banyak orang rasa itu muncul tak seperti tamu ia bagaikan pencuri ia bagaikan perampok yang tak pernah ijin tuk mengambil bukan harta bukan benda ia hanya mengambil hati sebuah benda pengendali segala jika ia berhasil membawanya pergi kau akan mati mati karena jatuh yang indah mereka biasa menyebutnya jatuh cinta

Bukan Tentang Kamu

bukan kamu yang membuatku  takut saat aku menyadari kau tak lagi disisiku ketika hatimu telah terisi hal baru dan saat bayangku tak lagi padamu bukan kamu yang membuatku tersipu saat tangan lembut mendekap wajahku ketika jemarimu membelai pipiku dan saat usapan hangatmu menggetarkanku bukan kamu yang membuatku menangis saat di lenganmu terselip tangan lain ketika matamu menatap lembut sosok lain dan saat aku hanya bisa melihat dari kejauhan bukan kamu yang membuatku tertawa saat leluconmu terlontar kala itu ketika tawa lepasmu terdengar bahagia dan saat aku dan kamu tertawa bersama inikah aku dan itukah dia? kini ku terjebak di sana sendiri penuh bimbang menanti penuh dilema

Bisu

malam temaram menyudut rasa kuberteman hujan dalam rintiknya melamun sendu dalam kenang kala lalu kuberjalan tanpa suara rembulan tak muncul jua bintang pun seakan musna langit tak lagi mampu menyapa lalu kuberjalan tanpa suara panjangnya malam masih ada dinginnya makin terasa kudekap hati penuh rasa lalu kuberjalan tanpa suara kala kusampai di ujung sana kulepas semua harapan kita membuang setiap indahnya lalu kuberjalan tanpa suara

Kutak Pernah Tau

sifatmu berubah sekejap tanpa sebab tanpa alasan hanya dingin yang ku rasa rasa tak nyaman menyelimutiku dan kini kita mulai berjarak melangkah bagai tak bersama dan kumerasa kau tak sama entah apa alasannya kutak tau

Kala Kugenggam Tanganmu

bila hari ini kamu bersamaku kuakan membuatmu ragu menjadikanmu bimbang kala itu lalu kugenggam tanganmu maka aku seketika menatap matamu meresapi setiap perasaan di situ memahami semua arti perlakuanmu lalu kugenggam tanganmu dan sejenak kutepiskan egoku mengalah hanya untuk memilikimu mendapati ketulusan dalam ucapmu seakan semua kata tak lagi tabu lalu kugenggam tanganmu

Cinta Pertama

ketika perasaan yang belum pernah ia rasakan  mulai mengganggu setiap hembus napasnya   dan sesuatu yang indah pun menghampirinya  hingga menciptakan kebahagiaan yang tiada batas  namun itu hanya sesaat, karena cinta pertama sempat hilang dari pandangan

Tentang Kamu

kamu.. sosok nyata yang dulu pernah ada senyum manis menjadi teman rindu kata lembut yang meluluhkanku kamu.. sumber rasa yang kini membunuhku kekuatan dalam yang memutus kasihku kamu.. sahabat yang mampu robohkan hatiku sahabat yang membuatku jatuh selalu kamu.. orang yang membuatku berbohong padaku sihirmu membuatku terjebak candu alunan melodimu membuatku tak bisa berlalu

Puzzle

jatuh cinta itu kayak puzzle, kamu akan menggabungkan setiap kepingan kecil bersamanya. yang nantinya akan kamu jadikan kisah utuh tapi ketika salah satu kepingan puzzle itu hilang, kamu akan merasa sakit. karena kisah yang telah kamu ciptakan, ternyata tak sesuai harapan.

Lembar Tentangmu

Saat ini aku ingin mengingatmu. Mulai pertama aku mengenalmu hingga sekarang ketika aku mulai menanti pesanmu. Aku membuka lembar pertama, hari di mana aku melihatmu sebagai pria dingin yang tidak peduli apapun. Kamu membuatku penasaran waktu itu. Aku hanya memperhatikanmu saat waktu mempertemukan kita. Dan tanpa kusangka, setelah berjalannya hari. Kita ada di ruang yang sama. Aku duduk diam di depanmu. Aku mendengar tawamu bersama teman-temanmu. Aku seperti merasakan es yang cair kala itu. Sungguh, aku tak pernah menyangka kamu sehangat itu. Lalu aku membuka lembar demi lembar hariku. Tiba lah saat pertama kali kita bertegur sapa. Sangat canggung. Dan itupun ketika kamu bertanya tentang tugas.  Lalu kubuka lagi lembar selanjutnya. Di situ bagian yang sangat ingin selalu kuingat. Karena saat itu kita semakin dekat, dan bahkan bukan hanya tegur sapa, tapi kita saling bercanda. Entah, melihat tawa lepasmu membuatku bahagia. Dan aku bisa menjadi diriku saat bersamamu. Kit...

Maka Aku

maka aku kan memintamu tanpa paksa ingin bertemu ketika mendung menyapa hatiku dalam gelap kumenantimu bagai hari tanpa mentari rasa ini sepat tak bersari kumenghilang bak ironi lalu hancur di hempas merpati maka aku kan memintamu duduk diam dalam dekatku rasa takut selubung jiwaku tak ingin lagi mencarimu ijinkan aku menapak kembali setelah terbang dari bumi lemparkan saja ulur jemari agar kupergi dari sini maka aku kan memintamu bersama seluruh anganku jadilah penghias hidupku

Semestinya

saat aku melihat tatapanmu gejolak rasa memaksa beradu sampaikan salam pada kelabu membawa sesal sang lalu hati insan kini kelabu bagaikan api memakan abu kala rindu datang padaku seperti palu tancapkan paku dan kumasih membisu tak percaya kala denganmu seakan titipkan hati piluku akankah kamu mau? inilah rasa yang syahdu bercahaya menyebut namamu seakan ingin meminta hatimu tuk bersandar dekat padaku

Melawan Rasa

dan ku terpesona seketika oleh tatapan dari dirinya mengadu rasa seperti gelora tak mampu bertahan semestinya melamban bak melodi dilema menumpuk bahkan dalam senja melarikan hati kala terpenjara seperti rubah tak bersuara akulah pemilik hati manusia tumbuh sendiri seperti benda menjatuhkan hati pada dirinya berpegang erat pada semesta akankah ada rasa? bahkan ketika dirinya tiada masih tersisa tatap matanya kala malam sedang berbicara oh.. mungkinkah ini rasa? saat kutak tau lagi kemana menolak setiap hati berkata hanya sadar yang mencoba

Karena Sajak

aku mencintai sajak dengan sajak aku bisa melupakanmu melupakan janji yang dulu pernah kau ucapkan padaku menghibur kala mengingatmu mengalihkan kala ku rindu dengan sajak aku bisa bercerita menuliskan kata tentang kisah bersamamu melampirkan foto kenangan kala itu membawanya dalam nyanyian syahdu dengan sajak aku mampu berbicara mencoba bangkit dari sakit yang kau buat menghilangkan sesak yang akut dalam dada menandakan kasih sang remaja

Masih kamu

taukah kamu saat aku mencoba untuk tersenyum di depanmu kala itu aku menahan rasa yang entah sampai kapan aku bisa menahannya perasaan tak biasa yang aku tak tau sejak kapan datangnya bahkan ketika waktu itu kamu bercerita tentangnya aku tak gentar tuk tetap mempertahankan ini bukan tentang cinta ini tentang hati yang terluka ini tentang sebuah mimpi yang sampai kini berusaha kuwujudkan

Entah mengapa aku takut?

Belum lama aku mengenalmu. Pria baik yang selalu membantuku. Menemani setiap lelahku. Selalu peduli bahkan setiap hariku. Itulah hal menakutkan bagiku. Kutakut salah arti. Karena kamu tak sendiri. Berhentilah teman. Aku tak ingin terjebak di sana. Menghancurkan gerbang yang telah kokoh. Tempat terindahmu bersamanya sejak dulu.  Biarkan aku seperti ini. Bebas bagai burung di sana. Hentikan semuanya. Bersikaplah seperti biasa. Aku benar-benar tak ingin jatuh. Jatuh dalam setiap dimensimu.  Maafkan aku yang berusaha menghindarimu. Mencoba tak memperhatikanmu walau sedetik. Aku ingin melepaskan diri. Karena kutakut dengan sikapmu. Bahkan sekarang aku tak berani menatap matamu. 

Pendusta Mengungkap

dan saat kebosanan mengutuk para pendusta ijinkan aku tuk berterus terang dalam gelapnya dunia kuarungi samudranya dan saat aku melihat samarnya matamu aku melambat memupus semua kejadian menepis semua khayal dan saat itu pula kuungkapkan kan kusampaikan semua yang kurasa tentang kasih fana, tentang kisah drama, tentang keajaiban yang kuharap   lalu kuhunuskan penyesalan dalam setiap malam  kenapa aku bisa terjebak oleh sosokmu yang kelam? 

Mencoba Terlepas

Taukah kamu saat aku sendiri dalam kesepianku? Aku ingat dirimu. Taukah kamu saat aku terpuruk dalam gelisah?  Aku ingat dirimu. Dan taukah kamu apa yang bisa membuatku bahagia?  Itu karena dirimu.  Bahkan ketika aku terjatuh, lalu tak tau harus berdiri mulai dari mana? Uluran tanganmu yang selalu kunantikan. Saat di mana aku tersandung dan terluka? Hanya dirimu obat perihnya.      Entah berapa kali aku mengelak untuk tidak memikirkanmu. Aku berusaha untuk tidak mengingatmu. Mencoba ingin cepat melupakanmu. Tapi kugagal.  Dan saat pagi yang dingin menemaniku. Kutuliskah keluhku, kuciptakan cerita lalu. Dan berharap terbaca olehmu.        

Perasaan? Hati?

Saat di mana kamu menyimpan rasa pada seseorang, namun kamu tak mampu mengungkapkannya. Karena sebuah hubungan persahabatan yang telah terjalin lama antara kalian. Bahkan kini sahabatmu sendiri adalah pemiliknya. Entah apa yang saat itu kamu rasakan saat pertama kali mendengar kabar mengejutkan itu. Apakah kamu akan membenci sahabatmu? Ataukah kamu mengutuk diri sendiri karena mencintai kekasih sahabat sendiri? Semua pilihan itu adalah salah. Kamu tidak perlu membenci sahabat bahkan dirimu sendiri. Karena perasaan itu tak pernah salah, hanya saja tepat atau tidaknya suatu perasaan datang yang tidak benar. Mungkin sekarang kamu akan membayangkan, apa yang terjadi jika sejak dulu kamu menyatakan perasaanmu? apakah semua akan berbeda? Ya. Tentu. Tapi bukan berarti akan sesuai dengan yang kamu inginkan.  Andai saja kamu bisa memanipulasi hidupmu, menciptakan cerita sesuai keinginanmu. Mungkin kamu benar-benar manusia egois. Bersyukurlah, bahwa kemampuan itu adalah hal yang musta...

Mimpi

  Ia adalah ilustrasi. Pertemuan fana dan nyata. Pembawa pengharapan bagi pelakunya. Bahkan membawa trauma berkepanjangan. Mimpi adalah bunga tidur, ya, benar. Karena ia memberikan warna saat kita menutup mata. Ia membawa kita pergi ke tempat yang pernah kita lewati, bahkan ke tempat yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Ia memancarkan gelombang nyenyak. Mempertemukan insan dalam alam bawah sadar. Menciptakan cerita kala semua jiwa lelah. Berjalan bak skenario kehidupan. Merintis satu demi satu kenangan. Tapi sayangnya, tak semua bisa menjadi nyata.

Kopi

cairan hitam pekat perpaduan antara manis pahit menghindarkan mata terpejam teman kala kesepian pelipur kala kekosongan dan sahabat untuk berbagi cerita

Arlanta

Di balik bukit salju merah jambu, Ada desa mungil nan cantik. Aroma coklat tersebar di mana-mana. Aliran sungai vanila membuatmu ingin berenang di sana. Sesosok gadis dengan jubah pelangi duduk membisu di bawah pohon kismis. Ia terlihat sedih, sorot matanya seperti kehilangan. Adalah Rens, putri dari seorang penyihir yang terkemuka di negeri Arlanta. Entah apa gerangan yang membuatnya begitu murung. Hingga warna pelangi jubahnya berubah menjadi mendung kelabu. Lalu nyamuk kecil bernama Bloody menyapa pelan. Si gadis tak menggubris sama sekali. Kemudian datang Frogos si katak yang membawakan secawan air vanila yang termanis untuk si gadis. Tapi dia tetap diam, dan matanya semakin meredup. Kini Timtim si belalang juga menghampiri gadis itu. Tak menyapa, maupun memberi hadiah. Dia hanya menatap kosong ke arah si gadis.  Menit berganti jam, dan matahari hampir tenggelam. Si gadis tetap teguh dalam diam. Bahkan saat kini ia sendiri, tak ada suara lagi selain desah nafasnya. Apakah ...

Hati yang Berputar

“Tania.. sini?” teriak gadis berambut panjang sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya. Namanya Cia, aku kenal baik dengan dia. Dia teman satu divisi di OSIS. Aku hanya melempar senyum dan berlari ke arahnya. Dia membalas senyumku dengan ramah. Ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, tepatnya kini sudah penjurusan. Aku masuk jurusan IPA, dan di tempatkan di kelas nomor 4. Isi kelasku sangat terlihat baru, aku bersyukur Cia satu kelas denganku setidaknya aku bisa punya teman ngobrol. Sebenarnya aku senang masuk jurusan IPA, jurusan yang sangat aku inginkan. Tapi sedihnya, aku tidak lagi sekelas dengan teman-temanku kelas 1 dulu dan tidak sekelas lagi dengan sahabat pertamaku di SMA. Dimas. Karena dia masuk jurusan IPS, tapi tak apalah yang penting kita masih sering bareng-bareng. “Hei.. kok jadi bengong?” teriak Cia tepat di telingaku. Aku hanya gelagapan menanggapinya. Di membalasku dengan tawa penuh ejekan. Dia sangat nyaman di sini, mungkin karena sudah banyak yang dia kenal dan...

Cinta dalam Perbedaan

saat berdiri di persimpangan aku melamun penuh gundah kamu menatap kosong tak terarah hanya diam yang menyelimuti kata saat kitab suci yang kita baca tak sama ketika tempat ibadah kita berseberangan seakan hati berdiri di ujung kehancuran retak tak akan bisa di cegah hanya berjuang atas nama cinta tak ada restu apalagi ikat ribuan mulut sibuk mencerca caci maki terus terlontar semakin lama cinta semakin kuat tapi hina dimanapun menghantui bahkan perbedaan mematikan rasa kala keyakinan memupus harapan ucapan doa yang tak sama bukan satu waktu ketika beribadah tak searah bahkan hari raya dan sirna kala tertentang

Fatamorgana Cinta

F ajar telah lama menari A kankah cinta datang kemari T aukah kasih semua sunyi A ndai dirimu tak pergi M asih teringat gambar pagi O mbak riak nan tersaji R asa insan tak berbagi G elora rindu terus mencari A palah diri hanya ilusi N ampak elok dalam elegi A sa jiwa meratap hati C inta ini tak menjadi I barat diri sepasang merpati N amun luka tak menghampiri T api semua bak mimpi A ku kini tetap sendiri

Siapa Aku?

Menulis dan membaca adalah hobiku dari kecil. Entah apa yang membuatku sangat menyukai hal yang mungkin kebanyakan orang menganggapnya sesuatu yang membosankan. Tapi sungguh, hal itu beda dengan apa yang kurasa. Dengan menulis aku bisa bercerita, walaupun hanya dengan benda mati. Tapi bagiku mereka hidup, bolpoin kadang menari, kertas kadang bersenandung, sampai keyboard laptop berteriak riang. Dengan menulis juga aku bisa merasa lega, aku bisa menumpahkan keluh kesah.  Tentang cinta yang indah, tentang cinta terpendam, hingga tentang persahabatan. Aku selalu suka meluangkan waktu di sela-sela tumpukan tugas kuliah, hanya untuk menulis. Aku tak tau kapan inspirasi datang, jadi aku tidak bisa mengatakan kapan biasanya aku menulis. Menjadi penulis memang cita-citaku, dan aku akan berusaha mewujudkan hal itu. Ini hanya sebagian kecil usahaku, ini tempatku terus belajar. Tempatku untuk semakin mesra dengan kata. Tak pernah terpungkiri juga, membaca karya-karya penulis profesional ...

Kala Jatuh Cinta

andaikan waktu terlambat sejenak kuakan menunggumu kala itu sejak terakhir pandangan sosokmu tak pernah lagi ku terlewatkan walaupun goresan kata telah meraja kertas kusut bertebaran ramai tinta merah telah berganti biru dan lembaran kosong tak tersisa lagi memori rimbamu masih mengarat bagaikan besi yang tak pernah suci gairah indah pesona kehadiranmu membuat tubuhku dingin bak dinding nadi tak mampu lagi berlalu detak jantung bak estafet kasih napaspun seperti puluhan cabai beradu begitulah diri bak pemeran utama jatuh tapi selalu ingin diulang tersandung namun tak ingin bangkit menyeret bagai menari pita berpapasan seperti merah senja aku bagai mimpi semalam ketika tangan tergores sekejap walaupun sesaat tapi banyak tertinggal seakan detik itu pun kuhapus agar semua tak pernah ada karena kutakut tercerita elegi bagaikan pedih kisah lalu ku tak boleh terulang bahkan kembali

Sekilas Pandang

sejenak menepi dari ramainya hari elok senyummu tak mampu berlari ketika raga spontan terus menari ingin selalu bercerita bak jemari lambaian angin mengiringi setiap kasih alam sunyi telah melebur perih sang waktu hilang ataukah masih padamu indah tatapan diri menagih andai mata tak sanggup berpaling namun hati tak ingin mencari dalam kelam kau bagai mentari alangkah sejuk bak embun pagi dapatkah aku mengulang siang tadi

Rindu Terlarang

saat angin menyihir keping rindu dalam senyap aku bersenandung lagu merdu bagai melodi syahdu irama fajar salin sajak kalbu ibarat rumput yang ingin dipuja seperti ilalang takkan diminta akankah rindu mampu terbaca ataukah hanya rindu terlarang setiap kata teruntai dilema panjang namun tak menyampaikan bisakah diri mematah harap bahwa kasih tak semestinya ada bagai burung menari ramai lalui kisah penghibur diri sejenak lupa tentang rindu ini bahkan hanya rindu terlarang dua insan telah bersama lainnya tak seperti dulu kala mencinta ibarat mawar yang akan layu indah di awal usang kemudian cerita lalu biarlah berlalu bukan terlupa hanya teringat tak salah diri pernah merindu walau itulah rindu terlarang

Kenangan

aku mengingatmu malam ini entah mengapa aku merasa sepi saat dahan gugur di musim semi kala malam tak sedingin pagi tadi buai kasih rembulan bak penyihir lolongan anjing pada rimba menjerit teringat pada satu nama terintis kumerenung mendekap hati ini dan kumulai menjauh sejauh mungkin berlalu dan tak ingin melamun kuhentak tanah tempatku berpijak mencoba menelan senyap di tubuh alangkah indah ketika itu memori melesat bak bintang jatuh membuka lembar demi lembar kertas usang memancing diri melukis warna goresan patah tak bermakna hanya terlihat tapi tak terbaca membentuk adegan dalam dilema melampirkan cerita bak nirwana lalu kumemandang ke belakang barisan sosok yang lama ku kenal ada satu yang terfokus di sana apakah itu dirimu? kuberjalan perlahan menujumu rasa tak asing merasuk tubuhku kugenggam er...

Misteri

Lama sekali aku terduduk di pojokan gazebo. Melamun sesuatu tak pasti, karena terjebak dalam kebosanan akut. Saat itulah aku melihat sosokmu. Pria berkemeja hitam, dengan tinggi menjulang. Dan pemilik dada lebar, yang mungkin sangat nyaman bila sembunyi di sana. Wajah yang biasa, namun pemilik senyum manis. Itulah awal aku mulai memperhatikanmu.  Dan kala waktu terus menerus berputar. Aku kembali bertemu denganmu. Bukan lagi di pelataran kampus. Tapi kini di ruang kelas yang sama. Aku sedikit demi sedikit mulai mengenalmu. Mengetahui namamu,  asalmu, hobimu,  dan hal-hal yang kamu suka. Semakin lama kita semakin dekat, saling bercanda, bercerita, dan berbagi tugas.  Kita terus melangkah, tapi dalam ikatan pertemanan.  Rasa saling peduli, saling berbagi, dan rasa menyayangi berhambur di setiap langkah kita. Sifatmu yang terlalu jaim, membuatku merasakan ada benteng besar yang menghadang kita. Walaupun kita berjalan bersama, tapi rasanya kau ada di ujung...

Apa kamu?

Ketika kamu merasakan kegelisahan tanpa alasan, taukah apa sebabnya? Ketika kamu merasakan kekacauan dalam hatimu, taukah apa sebabnya?  Seperti kutipan dalam salah satu novel Tere liye "Hidup adalah sebab akibat". Dimana setiap kamu merasakan alunan kehidupan, kamu akan tau alasan kenapa semua itu terjadi. Begitu juga ketika kegelisahan dan kekacauan menggelayutimu, selalu ada alasan untuknya bergantung. Apa itu kamu? Sesosok pemuda dengan  kumis tipis di dua sisi bibir merah jambunya. Senyuman yang semu dan kisah yang samar beradu. Apa itu kamu? Sosok yang belum tentu aku tau. Biarlah.

Hai..

Hai kamu, cowok dingin yang duduk dipojok kelasku. Berhenti membuatku memperhatikanmu. Jangan membuat pandanganku beralih padamu. Berhentilah membuat konsentrasiku buyar. Mata tajammu itu yang menghantuiku. Mengingatkanku betapa buasnya pesona dirimu. Mata itu seolah menusukku. Sangat tajam, bagai pedang menghunus hatiku. Jangan lagi membuatku penasaran karenamu. Matamu mencipta kebohongan luarmu. Aku ingin mengerti dirimu. Tapi aku sangat takut tertarik olehmu. Hai.. siapa namamu?  aku tau tapi aku tak berani mengingatnya. Aku takut kamu tak bisa lenyap. Tak bisa hilang. Bahkan selalu mengganggu hariku. Sosokmu tak seperti lainnya. Asal kamu tau, kamu itu berbeda. Berbeda yang membuat setiap nafasku menengok padamu. Bahkan ketika kamu tak terlihat oleh mataku. Tapi hatiku merasa hadirmu. Entah, sudah berapa besar aku mengagumimu?  Aku bahkan tak tau kapan dimulai?  Andai kamu bisa memberiku jawaban. Aku takkan lagi gundah seperti ini.