Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Di Antara Dingin dan Hangatmu

Kita memang dua yang menjadi satu, walau kadang semenyebalkan itu tingkahmu. Entah mengapa aku masih betah, bertahan dengan dinginmu yang sesekali berubah hangat. Seperti matahari yang enggan lama-lama singgah tapi selalu berhasil membuatku menunggu esoknya. Aku tidak pernah benar-benar paham bagaimana caranya kita bisa sampai di titik ini. Di antara perbedaan yang seringkali terasa seperti jurang, kita justru memilih untuk tetap saling mendekat. Mungkin karena di balik sikapmu yang acuh, aku tahu ada sesuatu yang diam-diam kau jaga. Sesuatu yang tidak kau ucapkan, tapi cukup terasa. Kau memang tidak selalu menjadi tempat yang nyaman. Ada hari-hari di mana kata-katamu terasa tajam, atau bahkan ketiadaan kata darimu justru lebih menyakitkan. Tapi anehnya, aku tetap tinggal. Bukan karena aku tidak tahu caranya pergi, tapi karena hatiku selalu menemukan alasan untuk kembali. Mungkin aku sudah terbiasa membaca caramu mencinta, yang tidak selalu hangat, tidak selalu jelas, tapi nyata. Seper...

Dulu, Kita Ada

Tiba-tiba saja nostalgia datang tanpa permisi. Seperti angin yang menyusup pelan, membawa kembali potongan-potongan waktu yang dulu terasa begitu hidup. Ada masa di mana segalanya tampak sederhana dan menyenangkan dengan cara yang tidak perlu dijelaskan. Aku pernah membaca ulang postingan lama, menelusuri balasan-balasan lucu dari teman-teman yang dulu begitu dekat. Di sela-sela itu, ada rindu yang diam-diam meremukkan. Bukan karena semuanya telah hilang, tapi karena aku tahu: semuanya tak akan pernah kembali dalam bentuk yang sama. Entah sejak kapan, setelah dewasa, hidup terasa lebih berat. Pertemanan tak lagi seramai dulu, yang tersisa hanya pertemuan-pertemuan singkat, percakapan seperlunya, atau hubungan yang lahir karena kebutuhan. Tawa pun tak lagi lepas, selalu ada sesuatu yang ditahan. Bahkan candaan pun kini terasa harus berhati-hati, seolah dunia tak lagi seaman dulu untuk sekadar menjadi ringan. Dulu, kita ingin sekali menjadi dewasa, berlari menuju sesuatu yang kita kira a...

Aku, Langit, dan Hal-hal yang Tidak Pernah Terucap

Gambar
Di setiap kolom yang mencoba merangkum siapa aku, aku selalu mengetik hal yang sama: " penyuka langit beserta atributnya" . Awalnya terdengar seperti kalimat iseng, semacam identitas kecil yang tak perlu dijelaskan. Tapi lama-lama aku sadar, itu bukan sekadar tulisan. Langit, dengan caranya yang diam dan luas, benar-benar pernah menyelamatkanku. Mungkin terdengar berlebihan, seperti seseorang yang menyebut sebuah lagu sebagai penyelamat hidupnya. Tapi bukankah kita semua punya sesuatu yang diam-diam menahan kita agar tidak runtuh sepenuhnya? Setiap kali aku menatap langit, ada jeda yang pelan-pelan tercipta. Aku menarik napas lebih dalam dari biasanya, memejamkan mata sebentar, lalu diam-diam berterima kasih, bukan pada siapa-siapa, tapi pada diriku sendiri yang masih bertahan sejauh ini. Memang terdengar sok puitis, sedikit melankolis, tapi begitulah adanya. Tidak semua hal perlu masuk akal untuk bisa terasa benar. Langit tidak pernah benar-benar menjawab apa-apa, tapi entah...