Postingan

Di Antara Dingin dan Hangatmu

Kita memang dua yang menjadi satu, walau kadang semenyebalkan itu tingkahmu. Entah mengapa aku masih betah, bertahan dengan dinginmu yang sesekali berubah hangat. Seperti matahari yang enggan lama-lama singgah tapi selalu berhasil membuatku menunggu esoknya. Aku tidak pernah benar-benar paham bagaimana caranya kita bisa sampai di titik ini. Di antara perbedaan yang seringkali terasa seperti jurang, kita justru memilih untuk tetap saling mendekat. Mungkin karena di balik sikapmu yang acuh, aku tahu ada sesuatu yang diam-diam kau jaga. Sesuatu yang tidak kau ucapkan, tapi cukup terasa. Kau memang tidak selalu menjadi tempat yang nyaman. Ada hari-hari di mana kata-katamu terasa tajam, atau bahkan ketiadaan kata darimu justru lebih menyakitkan. Tapi anehnya, aku tetap tinggal. Bukan karena aku tidak tahu caranya pergi, tapi karena hatiku selalu menemukan alasan untuk kembali. Mungkin aku sudah terbiasa membaca caramu mencinta, yang tidak selalu hangat, tidak selalu jelas, tapi nyata. Seper...

Dulu, Kita Ada

Tiba-tiba saja nostalgia datang tanpa permisi. Seperti angin yang menyusup pelan, membawa kembali potongan-potongan waktu yang dulu terasa begitu hidup. Ada masa di mana segalanya tampak sederhana dan menyenangkan dengan cara yang tidak perlu dijelaskan. Aku pernah membaca ulang postingan lama, menelusuri balasan-balasan lucu dari teman-teman yang dulu begitu dekat. Di sela-sela itu, ada rindu yang diam-diam meremukkan. Bukan karena semuanya telah hilang, tapi karena aku tahu: semuanya tak akan pernah kembali dalam bentuk yang sama. Entah sejak kapan, setelah dewasa, hidup terasa lebih berat. Pertemanan tak lagi seramai dulu, yang tersisa hanya pertemuan-pertemuan singkat, percakapan seperlunya, atau hubungan yang lahir karena kebutuhan. Tawa pun tak lagi lepas, selalu ada sesuatu yang ditahan. Bahkan candaan pun kini terasa harus berhati-hati, seolah dunia tak lagi seaman dulu untuk sekadar menjadi ringan. Dulu, kita ingin sekali menjadi dewasa, berlari menuju sesuatu yang kita kira a...

Aku, Langit, dan Hal-hal yang Tidak Pernah Terucap

Gambar
Di setiap kolom yang mencoba merangkum siapa aku, aku selalu mengetik hal yang sama: " penyuka langit beserta atributnya" . Awalnya terdengar seperti kalimat iseng, semacam identitas kecil yang tak perlu dijelaskan. Tapi lama-lama aku sadar, itu bukan sekadar tulisan. Langit, dengan caranya yang diam dan luas, benar-benar pernah menyelamatkanku. Mungkin terdengar berlebihan, seperti seseorang yang menyebut sebuah lagu sebagai penyelamat hidupnya. Tapi bukankah kita semua punya sesuatu yang diam-diam menahan kita agar tidak runtuh sepenuhnya? Setiap kali aku menatap langit, ada jeda yang pelan-pelan tercipta. Aku menarik napas lebih dalam dari biasanya, memejamkan mata sebentar, lalu diam-diam berterima kasih, bukan pada siapa-siapa, tapi pada diriku sendiri yang masih bertahan sejauh ini. Memang terdengar sok puitis, sedikit melankolis, tapi begitulah adanya. Tidak semua hal perlu masuk akal untuk bisa terasa benar. Langit tidak pernah benar-benar menjawab apa-apa, tapi entah...

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku yang pura-pura lupa. Kau tahu, Fra, kita bahkan tak pernah jadi apa-apa. Tak ada janji, tak ada perpisahan, hanya tatapan yang sering terlalu lama, dan tawa yang menggantung di antara jeda obrolan di ruang komputer sekolah. Aku masih ingat caramu memanggil namaku, biasa saja sebenarnya, tapi entah kenapa, dunia terasa sedikit lebih hidup setiap kali kau melakukannya. Kini aku mendengar kabar, kau sudah menikah, dengan seseorang yang bukan aku. Kau tidak mengabari, padahal dulu sempat berjanji, kalau kau yang duluan, aku akan jadi orang pertama yang tahu. Tapi tak apa. Aku tetap menulis ini, bukan untuk menuntut janji, hanya untuk mengakui bahwa sebagian kecil hatiku masih berhenti sejenak setiap kali melihat namamu di daftar penonton story-ku. Lucu, ya? Kau masih diam di sana, tak lagi hadir, tapi tak juga benar-benar pergi. Mungkin ini bukan cinta, ...

Padahal Hampir Sembuh

Dingin, sepi, dan kepergian mentari. Tiga hal yang menjadikan malam semakin menyulut adegan-adegan menyebalkan di masa lalu.  Suasana hati beserta dukungan semesta menghukumku hari ini.  Padahal sudah hampir sembuh, tapi terlalu keras kepala untuk menggaruk-garuk dan mengelupas bekas luka yang telah kering itu. Alhasil apa? Lukanya datang lagi, berdarah lagi.. dan susah payah cari obatnya lagi.  Benar memang, sesuatu yang bukan milikku tentu sampai kapanpun tetap tidak bisa menjadi milikku. Entah salah semesta atau mungkin salahku sendiri yang menjadikan cerita kita serumit ini.  Menyesal? Ya, tentu saja sering muncul di kepala. Pertemuan-pertemuan yang seharusnya tidak usah terjadi sejak awal, obrolan basa-basi yang tidak usah terlalu asik, dan kenyamanan itu jangan sampai muncul. Kalau sudah begini, ya bisa di tebak hasilnya apa? Harapan-harapan muncul, ekspektasi berlalu lalang, imajinasi-imajinasi berhamburan. Salahnya siapa? Terlalu memakai hati sih? Tarlalu dal...

Masih Kemarau

Kemarau masih belum usai, di bawah pohon dekat alun-alun kota aku termenung. Satu, dua, tiga, empat, ada empat bahkan lebih dedaunan coklat yang gugur di depan mataku. Pelan kuarahkan pandangku ke atas, ada banyak ranting yang kesepian. Mungkin sudah banyak kehilangan yang mereka rasakan. Dedaunan satu per satu pergi bersama angin, meninggalkan kekosongan yang entah sampai kapan akan pulih.  Esoknya, aku kembali ke tempat kemarin. Kali ini tak sendiri, ada genggam laki-laki yang sangat kucintai. Seperti kemarin, kumenatap ranting-ranting. Kupamerkan pada mereka bahwa aku tak lagi sendirian. Dengan satu senyuman lega, sekilas aku bisa menangkap senyum balasan dari mereka. Lalu aku menyadari satu hal. Mungkin sudah bertahun-tahun ranting itu merasakan sakitnya ditinggalkan, bukan hanya sekali dua kali, tapi setiap hari di satu musim. Anehnya, mereka tetap riang menanti dedaunan baru yang bersemi di musim hujan. Jadi, begitu rupanya. Setelah berulang kali, definisi sakit tak sama lagi...

Bicara tentang Hujan

Langit sedang mendung, mungkin sebentar lagi turun hujan. Lebat nggak ya kira-kira? Atau cuma gerimis aja? Kira-kira dua pertanyaan itu yang berkali-kali muncul di kepalaku. Padahal aku sedang tidak di luar, dan juga tidak ada jemuran. Tapi membayangkan bagaimana nanti hujan menunjukkan wujudnya, selalu membuatku bersemangat. Hujan adalah fenomena yang menyenangkan, walaupun sebenarnya aku benci kebasahan dan kedinginan.  Menikmati hujan dari balik jendela, atau dari sisi lain yang tidak basah sudah menjadi salah satu hobiku sejak lama. Apalagi ditambah pemandangan bocah-bocah yang berlarian di tengah hujan sembari terdengar sayup-sayup teriakan ibunya dari dalam rumah. Damai. Hangat. Membahagiakan. Ya, jadi begitulah hujan kataku.