Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Arlanta

Di balik bukit salju merah jambu, Ada desa mungil nan cantik. Aroma coklat tersebar di mana-mana. Aliran sungai vanila membuatmu ingin berenang di sana. Sesosok gadis dengan jubah pelangi duduk membisu di bawah pohon kismis. Ia terlihat sedih, sorot matanya seperti kehilangan. Adalah Rens, putri dari seorang penyihir yang terkemuka di negeri Arlanta. Entah apa gerangan yang membuatnya begitu murung. Hingga warna pelangi jubahnya berubah menjadi mendung kelabu. Lalu nyamuk kecil bernama Bloody menyapa pelan. Si gadis tak menggubris sama sekali. Kemudian datang Frogos si katak yang membawakan secawan air vanila yang termanis untuk si gadis. Tapi dia tetap diam, dan matanya semakin meredup. Kini Timtim si belalang juga menghampiri gadis itu. Tak menyapa, maupun memberi hadiah. Dia hanya menatap kosong ke arah si gadis.  Menit berganti jam, dan matahari hampir tenggelam. Si gadis tetap teguh dalam diam. Bahkan saat kini ia sendiri, tak ada suara lagi selain desah nafasnya. Apakah ...

Hati yang Berputar

“Tania.. sini?” teriak gadis berambut panjang sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya. Namanya Cia, aku kenal baik dengan dia. Dia teman satu divisi di OSIS. Aku hanya melempar senyum dan berlari ke arahnya. Dia membalas senyumku dengan ramah. Ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, tepatnya kini sudah penjurusan. Aku masuk jurusan IPA, dan di tempatkan di kelas nomor 4. Isi kelasku sangat terlihat baru, aku bersyukur Cia satu kelas denganku setidaknya aku bisa punya teman ngobrol. Sebenarnya aku senang masuk jurusan IPA, jurusan yang sangat aku inginkan. Tapi sedihnya, aku tidak lagi sekelas dengan teman-temanku kelas 1 dulu dan tidak sekelas lagi dengan sahabat pertamaku di SMA. Dimas. Karena dia masuk jurusan IPS, tapi tak apalah yang penting kita masih sering bareng-bareng. “Hei.. kok jadi bengong?” teriak Cia tepat di telingaku. Aku hanya gelagapan menanggapinya. Di membalasku dengan tawa penuh ejekan. Dia sangat nyaman di sini, mungkin karena sudah banyak yang dia kenal dan...

Cinta dalam Perbedaan

saat berdiri di persimpangan aku melamun penuh gundah kamu menatap kosong tak terarah hanya diam yang menyelimuti kata saat kitab suci yang kita baca tak sama ketika tempat ibadah kita berseberangan seakan hati berdiri di ujung kehancuran retak tak akan bisa di cegah hanya berjuang atas nama cinta tak ada restu apalagi ikat ribuan mulut sibuk mencerca caci maki terus terlontar semakin lama cinta semakin kuat tapi hina dimanapun menghantui bahkan perbedaan mematikan rasa kala keyakinan memupus harapan ucapan doa yang tak sama bukan satu waktu ketika beribadah tak searah bahkan hari raya dan sirna kala tertentang

Fatamorgana Cinta

F ajar telah lama menari A kankah cinta datang kemari T aukah kasih semua sunyi A ndai dirimu tak pergi M asih teringat gambar pagi O mbak riak nan tersaji R asa insan tak berbagi G elora rindu terus mencari A palah diri hanya ilusi N ampak elok dalam elegi A sa jiwa meratap hati C inta ini tak menjadi I barat diri sepasang merpati N amun luka tak menghampiri T api semua bak mimpi A ku kini tetap sendiri

Siapa Aku?

Menulis dan membaca adalah hobiku dari kecil. Entah apa yang membuatku sangat menyukai hal yang mungkin kebanyakan orang menganggapnya sesuatu yang membosankan. Tapi sungguh, hal itu beda dengan apa yang kurasa. Dengan menulis aku bisa bercerita, walaupun hanya dengan benda mati. Tapi bagiku mereka hidup, bolpoin kadang menari, kertas kadang bersenandung, sampai keyboard laptop berteriak riang. Dengan menulis juga aku bisa merasa lega, aku bisa menumpahkan keluh kesah.  Tentang cinta yang indah, tentang cinta terpendam, hingga tentang persahabatan. Aku selalu suka meluangkan waktu di sela-sela tumpukan tugas kuliah, hanya untuk menulis. Aku tak tau kapan inspirasi datang, jadi aku tidak bisa mengatakan kapan biasanya aku menulis. Menjadi penulis memang cita-citaku, dan aku akan berusaha mewujudkan hal itu. Ini hanya sebagian kecil usahaku, ini tempatku terus belajar. Tempatku untuk semakin mesra dengan kata. Tak pernah terpungkiri juga, membaca karya-karya penulis profesional ...

Kala Jatuh Cinta

andaikan waktu terlambat sejenak kuakan menunggumu kala itu sejak terakhir pandangan sosokmu tak pernah lagi ku terlewatkan walaupun goresan kata telah meraja kertas kusut bertebaran ramai tinta merah telah berganti biru dan lembaran kosong tak tersisa lagi memori rimbamu masih mengarat bagaikan besi yang tak pernah suci gairah indah pesona kehadiranmu membuat tubuhku dingin bak dinding nadi tak mampu lagi berlalu detak jantung bak estafet kasih napaspun seperti puluhan cabai beradu begitulah diri bak pemeran utama jatuh tapi selalu ingin diulang tersandung namun tak ingin bangkit menyeret bagai menari pita berpapasan seperti merah senja aku bagai mimpi semalam ketika tangan tergores sekejap walaupun sesaat tapi banyak tertinggal seakan detik itu pun kuhapus agar semua tak pernah ada karena kutakut tercerita elegi bagaikan pedih kisah lalu ku tak boleh terulang bahkan kembali

Sekilas Pandang

sejenak menepi dari ramainya hari elok senyummu tak mampu berlari ketika raga spontan terus menari ingin selalu bercerita bak jemari lambaian angin mengiringi setiap kasih alam sunyi telah melebur perih sang waktu hilang ataukah masih padamu indah tatapan diri menagih andai mata tak sanggup berpaling namun hati tak ingin mencari dalam kelam kau bagai mentari alangkah sejuk bak embun pagi dapatkah aku mengulang siang tadi

Rindu Terlarang

saat angin menyihir keping rindu dalam senyap aku bersenandung lagu merdu bagai melodi syahdu irama fajar salin sajak kalbu ibarat rumput yang ingin dipuja seperti ilalang takkan diminta akankah rindu mampu terbaca ataukah hanya rindu terlarang setiap kata teruntai dilema panjang namun tak menyampaikan bisakah diri mematah harap bahwa kasih tak semestinya ada bagai burung menari ramai lalui kisah penghibur diri sejenak lupa tentang rindu ini bahkan hanya rindu terlarang dua insan telah bersama lainnya tak seperti dulu kala mencinta ibarat mawar yang akan layu indah di awal usang kemudian cerita lalu biarlah berlalu bukan terlupa hanya teringat tak salah diri pernah merindu walau itulah rindu terlarang

Kenangan

aku mengingatmu malam ini entah mengapa aku merasa sepi saat dahan gugur di musim semi kala malam tak sedingin pagi tadi buai kasih rembulan bak penyihir lolongan anjing pada rimba menjerit teringat pada satu nama terintis kumerenung mendekap hati ini dan kumulai menjauh sejauh mungkin berlalu dan tak ingin melamun kuhentak tanah tempatku berpijak mencoba menelan senyap di tubuh alangkah indah ketika itu memori melesat bak bintang jatuh membuka lembar demi lembar kertas usang memancing diri melukis warna goresan patah tak bermakna hanya terlihat tapi tak terbaca membentuk adegan dalam dilema melampirkan cerita bak nirwana lalu kumemandang ke belakang barisan sosok yang lama ku kenal ada satu yang terfokus di sana apakah itu dirimu? kuberjalan perlahan menujumu rasa tak asing merasuk tubuhku kugenggam er...

Misteri

Lama sekali aku terduduk di pojokan gazebo. Melamun sesuatu tak pasti, karena terjebak dalam kebosanan akut. Saat itulah aku melihat sosokmu. Pria berkemeja hitam, dengan tinggi menjulang. Dan pemilik dada lebar, yang mungkin sangat nyaman bila sembunyi di sana. Wajah yang biasa, namun pemilik senyum manis. Itulah awal aku mulai memperhatikanmu.  Dan kala waktu terus menerus berputar. Aku kembali bertemu denganmu. Bukan lagi di pelataran kampus. Tapi kini di ruang kelas yang sama. Aku sedikit demi sedikit mulai mengenalmu. Mengetahui namamu,  asalmu, hobimu,  dan hal-hal yang kamu suka. Semakin lama kita semakin dekat, saling bercanda, bercerita, dan berbagi tugas.  Kita terus melangkah, tapi dalam ikatan pertemanan.  Rasa saling peduli, saling berbagi, dan rasa menyayangi berhambur di setiap langkah kita. Sifatmu yang terlalu jaim, membuatku merasakan ada benteng besar yang menghadang kita. Walaupun kita berjalan bersama, tapi rasanya kau ada di ujung...

Apa kamu?

Ketika kamu merasakan kegelisahan tanpa alasan, taukah apa sebabnya? Ketika kamu merasakan kekacauan dalam hatimu, taukah apa sebabnya?  Seperti kutipan dalam salah satu novel Tere liye "Hidup adalah sebab akibat". Dimana setiap kamu merasakan alunan kehidupan, kamu akan tau alasan kenapa semua itu terjadi. Begitu juga ketika kegelisahan dan kekacauan menggelayutimu, selalu ada alasan untuknya bergantung. Apa itu kamu? Sesosok pemuda dengan  kumis tipis di dua sisi bibir merah jambunya. Senyuman yang semu dan kisah yang samar beradu. Apa itu kamu? Sosok yang belum tentu aku tau. Biarlah.

Hai..

Hai kamu, cowok dingin yang duduk dipojok kelasku. Berhenti membuatku memperhatikanmu. Jangan membuat pandanganku beralih padamu. Berhentilah membuat konsentrasiku buyar. Mata tajammu itu yang menghantuiku. Mengingatkanku betapa buasnya pesona dirimu. Mata itu seolah menusukku. Sangat tajam, bagai pedang menghunus hatiku. Jangan lagi membuatku penasaran karenamu. Matamu mencipta kebohongan luarmu. Aku ingin mengerti dirimu. Tapi aku sangat takut tertarik olehmu. Hai.. siapa namamu?  aku tau tapi aku tak berani mengingatnya. Aku takut kamu tak bisa lenyap. Tak bisa hilang. Bahkan selalu mengganggu hariku. Sosokmu tak seperti lainnya. Asal kamu tau, kamu itu berbeda. Berbeda yang membuat setiap nafasku menengok padamu. Bahkan ketika kamu tak terlihat oleh mataku. Tapi hatiku merasa hadirmu. Entah, sudah berapa besar aku mengagumimu?  Aku bahkan tak tau kapan dimulai?  Andai kamu bisa memberiku jawaban. Aku takkan lagi gundah seperti ini.