Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Fra (Sebuah Catatan)

Dinding rumahku lembab, pecah-pecah, dan sepertinya minta dicat ulang. Dulu warnanya biru muda, sekarang sudah pudar jadi abu-abu. Ya, abu-abu. Seperti dirimu yang kini entah seperti apa keadaannya. Yang ingin kutemui walau hanya di sela-sela mimpi, yang ingin kutemui walau sebatas gambaran kenangan masa lalu.    Aku tidak suka abu-abu, aku lebih suka merah jambu atau cokelat madu. Tapi kamu tidak begitu, aku jadi bingung sebenarnya suka kamu atau sekedar mengagumi senyummu. Tepat sore itu, ketika senja tak kelihatan batang hidungnya, karena mendung lebih dulu berpesta, aku duduk di jok belakang sepeda motormu. Menggenggam erat kemeja kotak-kotak warna abu-abu yang kamu kenakan tanpa jaket kesukaanmu, karena jaketnya sudah membalut tubuhku, mengamankan gaun biru mudaku. Sedang hujan deras. Kita kebasahan, dan kamu keras kepala tidak ingin berteduh sebentar. Padahal sebenarnya aku sedikit lapar. Katamu, “aku suka bersamamu saat hujan, dengan begitu aku tidak takut lagi kenanga...

Apa kabar?

Sedang gerimis malam ini, lampu-lampu jalan terlihat sendu. Udara malam perlahan memeluk tubuh ini, meninggalkan kekosongan yang begitu menyakitkan. Apa kabar kamu? Laki-laki yang dulu pernah mengorbankan jaket kesayangannya untuk menahan hujan agar tidak berani mengecupku. Laki-laki yang memaki angin, hingga ia tak sempat mencolek sedikitpun tubuh mungilku. Harapanku selalu sama, semoga kamu baik-baik saja. Dari dulu, sampai sekarang. Dari saat di mana kamu menorehkan luka-luka yang tak berbekas namun sakitnya bertahan sampai sekarang, aku masih selalu berharap kamu baik-baik saja.  Sekarang pukul delapan malam tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Aku menatap rintik yang jatuh, yang awalnya pelan hingga kencang dan penuh kegaduhan. Anehnya, aku masih merasa kosong. Entah itu karena aku sedang sendiri, atau karena hatiku telah kamu bawa lari? Sepertinya, alasan kedua lebih tepat, atau dua-duanya memang tepat. Aku tarik selimut yang sempat aku lemparkan jauh dari kakiku, tadinya...

Fra (Rasa yang Tak Pernah Nyata)

Pada senja yang terus-terusan mengetuk kaca jendelaku, aku memohon. Menyampaikan padamu agar sebentar saja mengijinkanku menatap matamu. Walau hanya sebatas mimpi singkat ketika aku ketiduran sebelum malam. Sederhana bukan? Bagaimana bisa kamu terlalu pelit untuk mewujudkannya? Apakah hal sederhana itu terlalu mahal Fra? Untuk aku yang memang bukan menjadi arah tujuan pelabuhanmu. Tapi, dalam sebuah perjalanan selalu ada tempat untuk singgah kan? Kenapa tak kamu jadikan aku sesuatu seperti itu? Walau hanya singgah, setidaknya aku bisa melepas lelahmu. Bukan begitu Fra? Tentu saja jawaban yang kamu berikan hanya senyuman. Aku sudah hapal betul pada tingkahmu. Terlalu sulitnya menggapai dirimu, hingga kata-kata bahkan tidak betah ke luar dari mulutmu. Ketahuilah Fra, bahkan sampai berkali-kali aku menangis karena merindukanmu. Tak sedikitpun aku bisa melupakan perasaanku yang dengan tidak sopan telah kusematkan padamu. Dan tak ada sedikitpun sesal yang datang padaku, karena ia tahu aku b...