Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya.
Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana. Beberapa kali kulihat ia mengusap rambutnya, menggaruknya sebentar walaupun sepertinya bukan karena gatal. Ia gelisah, sangat jelas dari sorot matanya.
7.200 detik berlalu, dan aku tetap melihatnya, dia tak menyentuh sedikitpun cangkir di sebelah tangan kanannya. Dia hanya diam menatap rembulan, yang bisa kulihat sepi seperti dirinya. Malam ini tak ada bintang di sana, padahal bulan purnama begitu terang. Dia menghela nafas sejenak, sepertinya ia akan beranjak. Tapi nyatanya tidak, dia kembali duduk setelah mengambil sebuah kotak merah hati dari saku celananya. Ia buka perlahan, ia tatap dengan hangat, lalu ia tutup dengan begitu keras. Sorot matanya terlihat marah.
Aku bukan sutradara dari semua, aku tak tahu alasan sorot amarahnya. Yang bisa kutangkap, hanya rasa kecewa yang bahkan lebih besar dari indahnya purnama. Hatinya patah. Aku bisa memahaminya. Ia hancur, aku tau itu. Kini kulihat ia genggam erat kotak itu. Ia menutup mata sebentar, sepertinya untuk merelakan. Ia kembali berdiri, kini ia melangkah. Pelan. Tapi aku tau tujuannya. Tepat di sudut kanan dari tempatku bercerita, ia berhenti. Ia tatap air danau yang menunjukkan indahnya bayang purnama. Tanpa aba-aba, ia berteriak. Aku tersentak. Bukan karena terkejut, aku ikut merasa rapuh saat air matanya jatuh. Seakan aku dapat merasakan betapa pilunya pria itu. Ia masih menggenggam erat kotak merah hatinya, sepertinya ia tak kuasa untuk melempar jauh benda itu. Ia patah, tapi tidak hasratnya. Sorot matanya masih teguh, rasa sejatinya tak kan pernah hilang.
7.200 detik selanjutnya, aku hanya melihatnya tersedu sendirian. Aku berniat menghampirinya. Tapi, kuurungkan niat kala derap langkah perlahan mendekat. Wanita dengan gaun warna senada kotak itu menghambur dalam pelukannya. Mereka tersedu, aku tak tau apakah itu suka atau duka. Yang dapat kulihat, hanya sosok matanya yang sembab kini berbinar. Aku tau sekarang. Dialah alasan begitu rapuh dan bahagianya pria itu. Tanpa kusadari, air jatuh di pelupukku. Entah apa sebabnya aku tak tau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar