Jumat, 17 Agustus 2018

Senandika


Pertama kali aku melihatmu, aku tak pernah menyangka akan sedekat ini. Berhari-hari kita berada di tempat dan waktu yang sama. Melakukan kegiatan yang sama. Tapi tak pernah sekalipun berbincang. Hingga waktu mulai jengah dan mencoba memaksa kita untuk saling menyapa. Berawal dari candaan yang kamu ciptakan, aku tertawa lepas tanpa peduli kedekatan yang tercipta. Dan waktu masih terus mempererat kita agar semakin menciptakan kenangan bahagia. 

Maka hampir setiap hari, aku dan kamu tak pernah untuk saling diam. Kita yang sama-sama berisik membuat segala suasana tak lagi sepi. Ejekanmu yang menyebalkan, malah membuatku selalu ketagihan. Kita masih sebatas teman, tapi aku mulai nyaman. Tapi tak sedikitpun aku berharap lebih padamu, karena aku tau sejak awal siapa dirimu. Aku hanya bahagia jika bersamamu, bercanda denganmu dan tertawa bersama. Kamu juga begitu, selalu baik denganku seolah aku adik kecilmu.

Suatu hari kita pergi bersama, menikmati waktu yang kamu bilang itu hari perpisahan. Iya, kamu akan pulang. Dan aku semakin berat melepasmu kembali kepadanya. Kamu begitu baik, walaupun baik yang kamu ciptakan berbeda. Sebelum kepulanganmu, kita masih sering bersama. Bercanda tawa dan saling menjelekkan. Aku suka menggodamu dan kamu selalu pura-pura marah padaku. Tapi kamu selalu kalah, lalu tertawa. Lucu. Aku suka melihatmu begitu. Memang kamu lebih muda dariku, tapi kamu telihat begitu dewasa. Aku seperti mempunyai kakak laki-laki yang sangat peduli padaku.

Tinggal menghitung hari menuju kepulanganmu, pesan singkat darimu juga semakin sering muncul. Sekarang bukan sekedar menanyakan kegiatan atau bercanda. Kini mulai ada pesan-pesan perpisahan. Aku sedih setiap kamu bilang akan segera pergi. Karena mungkin sulit untuk kita bertemu lagi nantinya. Berbagi kabarpun pasti tak bisa sesering biasanya, karena kamu bilang hampir setiap hari dengannya.

Tepat di hari kamu akan pulang, semalam kita tertawa bersama melepas segala kenangan yang pernah kita ciptakan. Tawa hingga air mata telah aku keluarkan sebelum hari ini. Semakin dekat dengan waktu kepulanganmu, entah mengapa terasa berat. Aku berat melepasmu dan kamu bilang berat berpisah dariku. Lalu kamu mengirim pesan singkat lagi padaku, di sela kegiatanku yang tidak lagi ada kamu. Kamu memancingku untuk berterus terang akan rasaku. Iya, aku sayang padamu. Kamu bilang kenapa semua terungkap ketika kamu akan pergi. Karena aku takut semakin berat melepasmu pulang. Dan aku tak pernah mengira, kamu juga menyatakan rasa. Kamu bilang sayang padaku, tapi kamu sudah bersamanya dan jarak memisahkan kita. Kamu meminta maaf padaku karena telah memiliki perasaan seperti itu. Aku tertegun, aku bingung. Aku senang, tapi aku takut kamu hanya bercanda atau sekedar menyenangkan diriku. Aku takut berharap.

Saat kamu dalam perjalanan pulang, kamu kembali mengirim pesan padaku. Pesan yang melukiskan betapa berat meyakini bahwa kita akan berpisah. Betapa berat meyakini bahwa kita akan bertemu lagi. Entah kapan.

Kamu bilang aku harus bahagia, walau tanpa dirimu. Tenang. Aku berjanji akan melakukannya.

Sempat aku resah, saat kamu tiba di rumah. Tak ada kabar lagi tentangmu, bahkan hampir 48 jam. Aku sudah tau apa sebabnya, karena kamu pernah memberitahuku sebelumnya. Aku mencoba kuat, tapi ternyata berat. Aku mencoba tegar, tapi ternyata berat. Aku bahkan tak pernah mengira rasanya akan sesakit ini.

Aku resah sepanjang hari, entah apa sebabnya. Aku kehilangan semangat. Dan akhirnya kamu kembali menghubungiku. Kamu kembali muncul dalam hariku. Sungguh, aku bahagia walaupun kamu bukan untukku. Aku bahagia karena melihatmu bahagia di sana. Aku juga bersyukur, kamu memiliki dia yang terus mencintaimu. Dia yang lebih bisa membahagiakanmu dari pada aku.

Kini, aku ingin menutup kisah kita. Bukan lagi dengan kesedihan. Tapi dengan senyum bahagia.

Mari bahagia bersama, walau dengan orang yang tak lagi sama.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Entah Rindu atau Rela


Cukup sampai di sini saja kisahnya. 
Jangan meminta lagi tentang rasa. 
Karena semua sudah tak ada.
Kini tinggal masing-masing mengukir cerita.
Berbeda tentu saja.
Dan untuk orang yang tak sama.
Karena kini waktu mulai bicara.
Pada embus angin yang rela.


Di balik gunung ini, kisah kita mulai berawal. Dan kuingin, kisahnya tak akan berakhir. Tapi takdir berkata lain. Hingga hari ini pun datang, hari dimana semua kisah harus diakhiri. Tapi satu yang harus kamu ketahui disini ada hati yang selalu bersamamu. Dan mulai sekarang, biarkan waktu yang meneruskan bagiannya.

Andai saja waktu dapat aku putar kembali, aku ingin kisah ini takkan pernah berakhir secepat ini, walaupun harus berakhir biarlah berakhir dengan semestinya. Sudah banyak kisah yang telah dilalui, sekarang giliranku untuk mengenang cerita ini. Kisah yang dimana kau dan aku hampir menjadi KITA.

Karena hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melupakan itu terserah hatimu. Hatimu yang tau. Memang hati sudah memilih, tapi jangan pernah melupakan cerita disaat kau dan aku pernah tertawa bersama. Karena dibalik setiap tawa selalu ada cerita yang istimewa. Maka tak akan kulupa walau waktu memaksa tuk melupa. Jika memang waktu memaksamu untuk melupakan semua, cuma satu pesanku "jangan lupa bahagia".

Karena kau salah satu alasanku untuk bahagia, maka kau selalu jadi tokoh utama. Jika memang aku alasan utamamu bahagia, maka jangan pernah berdiri di belakangku karena kamu bukan Tuhan ku, tapi berdirilah disampingku karena kamu penyemangatku. Marilah berjalan bersama, saling menguatkan tanpa saling  mematahkan.

Aku tak merencanakan untuk mencintaimu, tapi aku bahagia melakukannya. Karena bahagia bukan hanya karena mencinta. Ada saatnya kau harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, tetapi demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama dan orang yang sama. Dan juga tak ingin melukai hati yang lain.

Mencintaimu adalah bahagia dan sedih,  bahagia karena memilikimu dalam kalbu, sedih karena kita sering berpisah. Merindukanmu adalah kewajiban dan larangan, kewajiban untuk selalu memikirkanmu dan larangan untuk berharap padamu. Orang berubah, perasaan berubah. Itu bukan berarti bahwa cinta yang pernah sekali kita bagi tidak benar dan nyata.




**Collaboration 


Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...