Kali ini aku percaya Fra, ketika segenggam luka tidak terlalu digenggam maka ia akan terlepas sendirinya. Begitu pula dengan sekotak luka yang pernah kamu hadiahkan padaku waktu hujan terakhir di hari Minggu sebelum perpisahan itu. Dulu aku menyimpannya rapat, menyembunyikan kuncinya, dan menutupi rupanya, agar orang-orang tidak pernah menemukannya. Karena aku hanya ingin kamu seorang, hanya ingin kamu yang membukanya dan mencoba menyembuhkannya. Namun, sampai saat aku menulis kalimat tadi, belum ada tanda-tanda kamu akan kembali, bahkan bayangmu tidak pernah kelihatan lagi setelah kamu memaksaku untuk menghentikan semua perasaan itu.
Dan apa kau tau Fra? Setelah beberapa kali aku tertampar kenyataan, aku masih terus-terusan berkhayal untuk selalu berada di sampingmu. Kalaupun harus jauh darimu, aku hanya ingin sebatas ujung penglihatan matamu. Karena memang begitulah rasaku padamu, ketika kamu meminta hatiku untuk pertama kalinya, aku langsung memberimu semuanya tanpa tersisa. Kamu sangat beruntung Fra, sedang aku masih terus-terusan mencoba berlapang dada melepaskan hatimu yang kamu minta untuk dikembalikan.
Tapi hari ini berbeda, entah karena angin apa aku memutuskan untuk membuka kotak luka itu. Membiarkannya terbang bersama angin dingin pagi hari, di bawah tatapan langit yang ikut-ikutan sendu. Awalnya memang berat, tapi setelah isi kotaknya lenyap ternyata aku bisa baik-baik saja. Sepertinya luka-luka yang kusembunyikan bukan darimu, tapi dariku yang sejak awal tidak berani membuka kunci itu. Pantas saja mereka meronta-ronta ingin keluar bersama air mata setiap aku mengingat punggungmu yang menjauh hari itu. Andai saja aku paham, sudah sejak lama aku lepas, bahkan sejak melepas langkahmu menjauh untuk pertama kalinya. Agar tidak hanya hatiku yang kamu kantongi dan bawa pergi, tapi luka-luka yang tercipta semenjak aku memutuskan mencintamu.
Ternyata melegakan Fra, ketika menatap isi kotaknya kosong aku sedikit bahagia. Iya sedikit, karena bahagiaku yang terbanyak hanya saat bersamamu. Tapi untungnya masih ada yang tersisa, bukankah kata pepatah "sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit", jadi aku akan mulai memberanikan diri membagi hal sedikit itu pada orang yang kini sedang mencoba memupuk kembali hatiku, agar tumbuh subur, dan kemudian disirami dengan cinta agar berbunga bersamanya.
Jadi, tujuanku menulis kali ini adalah mengucapkan selamat tinggal padamu yang memang terlalu telat untuk aku ucapkan. Semoga kamu bahagia di sana, dan aku harap jangan pernah kembali lagi. Lupakan permintaan konyolku waktu itu, dan tetaplah pada arah kisahmu.
Dan aku, akan mencoba menjadi kuncup untuk nantinya bisa mekar tanpamu. Kini aku tak akan lagi menulis namamu di judul tulisanku, selamat tinggal dan jangan ada kata "sampai jumpa". Karena perjuangan membuka kunci luka amat sangat berat.
Fra, kita selesai.