Terkadang melihat melihat senyummu juga menjadikan luka, entah karena aku terlalu egois atau karena alasan klasik karena takut kehilanganmu. Bagaimana bisa aku hanya menginginkan senyummu tertuju padaku, tanpa boleh kau berikan pada orang lain termasuk teman-temanmu. Aku sangat sadar bahwa apa yang aku lakukan itu salah, dan memang tidak seharusnya ada dalam hubungan kita. Tapi, aku masih tidak terima jika senyum manismu juga dinikmati oleh mata selain mataku. Tapi tenang, aku akan mengurangi sedikit egoku. Asalkan, kamu harus janji untuk tidak sembarangan tersenyum pada orang lain, kalau tidak sengaja dan memang harus baru tidak apa-apa.
Kadang kala ketika mengingat saat pertama kali berbagi cerita denganmu, membicarakan hal-hal yang tentu saja sejak awal tidak terlihat di matamu. Topik obrolan yang tentu saja tidak sesuai dengan raut wajahmu. Ternyata memang benar, jangan pernah menilai orang dari luarnya saja. Itu berlaku juga padamu, yang terlihat begitu dingin di luar tetapi sebenarnya kamu menyembunyikan kehangatan yang mungkin banyak orang yang tidak menyadainya.
Entah berapa kalipun kupikirkan. Aku masih tetap heran, bagaimana aku sebegitu mencintaimu dengan gilanya, hingga hari ini.