Rabu, 20 September 2023

Masih Kemarau

Kemarau masih belum usai, di bawah pohon dekat alun-alun kota aku termenung. Satu, dua, tiga, empat, ada empat bahkan lebih dedaunan coklat yang gugur di depan mataku. Pelan kuarahkan pandangku ke atas, ada banyak ranting yang kesepian. Mungkin sudah banyak kehilangan yang mereka rasakan. Dedaunan satu per satu pergi bersama angin, meninggalkan kekosongan yang entah sampai kapan akan pulih. 

Esoknya, aku kembali ke tempat kemarin. Kali ini tak sendiri, ada genggam laki-laki yang sangat kucintai.

Seperti kemarin, kumenatap ranting-ranting. Kupamerkan pada mereka bahwa aku tak lagi sendirian. Dengan satu senyuman lega, sekilas aku bisa menangkap senyum balasan dari mereka. Lalu aku menyadari satu hal. Mungkin sudah bertahun-tahun ranting itu merasakan sakitnya ditinggalkan, bukan hanya sekali dua kali, tapi setiap hari di satu musim. Anehnya, mereka tetap riang menanti dedaunan baru yang bersemi di musim hujan.

Jadi, begitu rupanya. Setelah berulang kali, definisi sakit tak sama lagi. Sesakit apapun kenyataan yang ada, kalau sudah merasa terbiasa, ya jadinya biasa saja. Masih bisa tersenyum, padahal baru saja terkoyak dalam-dalam. 

Lalu, kutoleh pemilik genggam hangat di tanganku. Kutatap matanya, dan tersenyum. Dia terlihat heran, dan aku menemukan seberkas penyesalan. Karena bagaimanapun sorot mata itu, aku tak bisa untuk tak mencintaimu. 

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...