Aku, Langit, dan Hal-hal yang Tidak Pernah Terucap
Mungkin terdengar berlebihan, seperti seseorang yang menyebut sebuah lagu sebagai penyelamat hidupnya. Tapi bukankah kita semua punya sesuatu yang diam-diam menahan kita agar tidak runtuh sepenuhnya?
Setiap kali aku menatap langit, ada jeda yang pelan-pelan tercipta. Aku menarik napas lebih dalam dari biasanya, memejamkan mata sebentar, lalu diam-diam berterima kasih, bukan pada siapa-siapa, tapi pada diriku sendiri yang masih bertahan sejauh ini. Memang terdengar sok puitis, sedikit melankolis, tapi begitulah adanya. Tidak semua hal perlu masuk akal untuk bisa terasa benar.
Langit tidak pernah benar-benar menjawab apa-apa, tapi entah kenapa, ia selalu berhasil mengosongkan hal-hal yang terlalu penuh di kepalaku. Ia menjadi tempatku pulang sejenak, tempat di mana pikiran buruk perlahan mengendur, dan napas terasa lebih ringan.
Maka jika suatu hari seseorang bertanya apa yang paling aku sukai, mungkin aku tidak akan langsung menjawab. Aku akan diam sebentar, membiarkan hening itu cukup jujur untuk mewakiliku. Lalu dengan pelan, aku akan berkata,
"Menatap langit, dan membiarkan diriku hilang sebentar di dalamnya."

Komentar
Posting Komentar