Dingin, sepi, dan kepergian mentari. Tiga hal yang menjadikan malam semakin menyulut adegan-adegan menyebalkan di masa lalu.
Suasana hati beserta dukungan semesta menghukumku hari ini.
Padahal sudah hampir sembuh, tapi terlalu keras kepala untuk menggaruk-garuk dan mengelupas bekas luka yang telah kering itu. Alhasil apa? Lukanya datang lagi, berdarah lagi.. dan susah payah cari obatnya lagi.
Benar memang, sesuatu yang bukan milikku tentu sampai kapanpun tetap tidak bisa menjadi milikku. Entah salah semesta atau mungkin salahku sendiri yang menjadikan cerita kita serumit ini.
Menyesal? Ya, tentu saja sering muncul di kepala. Pertemuan-pertemuan yang seharusnya tidak usah terjadi sejak awal, obrolan basa-basi yang tidak usah terlalu asik, dan kenyamanan itu jangan sampai muncul. Kalau sudah begini, ya bisa di tebak hasilnya apa? Harapan-harapan muncul, ekspektasi berlalu lalang, imajinasi-imajinasi berhamburan. Salahnya siapa? Terlalu memakai hati sih? Tarlalu dalam pula. Hingga kesusahan naik ke permukaan.
Kita sudah terlalu jauh, untuk kebetulan-kebetulan itu.
Menyalahkan garis interaksi? Buat apa? Salah sendiri tidak menghindar. Mau-maunya tenggelam dalam bualan-bualan indah yang memabukkan. Bukan menarikku ke luar, justru menenggelamkanku ke dalam kegelapan.
Cemburu,
Marah.
Aneh, dua hal yang paling kubenci semenjak bertemu denganmu. Sakit sendiri, terluka sendiri, tapi tak ditemukan penyesalanpun di bola matamu. Harusnya aku sudah pergi sejak dulu, sejak pertama kali air mata kujatuhkan untukmu. Tapi apa? Kamu malah mendorongku semakin jauh, jauh tenggelam dalam kegelapan yang entah sampai kapan bisa aku hilangkan. Kegelapan yang menghantuiku setiap saat. Kegelapan yang menjelma sosok itu, sosok yang masih sama, sosok yang paling menyayat hatiku.
Aku harus apa sekarang?
Aku terlalu lemah,
Aku terlalu takut,
Aku terlalu bodoh mungkin.
Sepertinya satu-satunya cara. Hanya dengan mencintamu habis-habisan, secapek-capeknya. Hingga semuanya hilang, hancur berkeping-keping. Dan aku tak sadarkan diri, lalu terbangun di pagi hari yang cerah, dengan senyum baru, serta tanpa kamu.
Tapi kapan itu?
Padahal sudah hampir sembuh.
Setelah ini di tutup saja lukanya, biar tidak terlihat. Semoga cepat sembuh, dan pergi darimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar