Dulu, Kita Ada

Tiba-tiba saja nostalgia datang tanpa permisi. Seperti angin yang menyusup pelan, membawa kembali potongan-potongan waktu yang dulu terasa begitu hidup. Ada masa di mana segalanya tampak sederhana dan menyenangkan dengan cara yang tidak perlu dijelaskan.

Aku pernah membaca ulang postingan lama, menelusuri balasan-balasan lucu dari teman-teman yang dulu begitu dekat. Di sela-sela itu, ada rindu yang diam-diam meremukkan. Bukan karena semuanya telah hilang, tapi karena aku tahu: semuanya tak akan pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Entah sejak kapan, setelah dewasa, hidup terasa lebih berat. Pertemanan tak lagi seramai dulu, yang tersisa hanya pertemuan-pertemuan singkat, percakapan seperlunya, atau hubungan yang lahir karena kebutuhan. Tawa pun tak lagi lepas, selalu ada sesuatu yang ditahan. Bahkan candaan pun kini terasa harus berhati-hati, seolah dunia tak lagi seaman dulu untuk sekadar menjadi ringan.

Dulu, kita ingin sekali menjadi dewasa, berlari menuju sesuatu yang kita kira akan membawa kebebasan. Tapi setelah benar-benar sampai, justru ada keinginan diam-diam untuk kembali menjadi kecil. Kembali ke masa di mana pulang selalu berarti tenang, dan esok hari tak pernah terasa menakutkan.

Mungkin benar, semua orang pernah merasakan ini. Rindu pada sesuatu yang tidak bisa disentuh lagi, hanya bisa dikenang. Dan di antara semua itu, kita hanya bisa berdiri di sini, menerima bahwa waktu tidak pernah benar-benar berpihak pada siapa pun, selain pada kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah Rindu atau Rela

Kopi Hitam

#Dilan Rindu itu Berat