Di Antara Dingin dan Hangatmu
Kita memang dua yang menjadi satu, walau kadang semenyebalkan itu tingkahmu. Entah mengapa aku masih betah, bertahan dengan dinginmu yang sesekali berubah hangat. Seperti matahari yang enggan lama-lama singgah tapi selalu berhasil membuatku menunggu esoknya.
Aku tidak pernah benar-benar paham bagaimana caranya kita bisa sampai di titik ini. Di antara perbedaan yang seringkali terasa seperti jurang, kita justru memilih untuk tetap saling mendekat. Mungkin karena di balik sikapmu yang acuh, aku tahu ada sesuatu yang diam-diam kau jaga. Sesuatu yang tidak kau ucapkan, tapi cukup terasa.
Kau memang tidak selalu menjadi tempat yang nyaman. Ada hari-hari di mana kata-katamu terasa tajam, atau bahkan ketiadaan kata darimu justru lebih menyakitkan. Tapi anehnya, aku tetap tinggal. Bukan karena aku tidak tahu caranya pergi, tapi karena hatiku selalu menemukan alasan untuk kembali.
Mungkin aku sudah terbiasa membaca caramu mencinta, yang tidak selalu hangat, tidak selalu jelas, tapi nyata. Seperti angin yang tak terlihat, namun bisa kurasakan setiap kali kau memilih tetap ada, meski tanpa banyak suara.
Dan aku, dengan segala kekuranganku, memilih untuk memahami itu. Memahami bahwa tidak semua cinta harus selalu riuh, tidak semua kasih harus selalu ditunjukkan dengan cara yang sama. Kadang, cukup dengan tidak pergi, itu saja sudah menjadi bentuk bertahan yang paling tulus.
Jadi jika suatu hari kau bertanya mengapa aku masih di sini, jawabannya sederhana: karena di antara dingin dan hangatmu, aku menemukan sesuatu yang tidak bisa kutemukan di tempat lain. Alasan untuk tetap percaya bahwa kita, dengan segala ketidaksempurnaan ini, tetap layak diperjuangkan.
Komentar
Posting Komentar