Selasa, 12 Juni 2018

Petrikor


Tak kulihat senja hari ini, hanya semilir angin dingin dan langit kelabu. Bersama secangkir teh hangat di tangan kananku, aku melamun. Membayangkan kisah sedih di masa lalu, berbagai adegan menyakitkan saling beradu. Lalu tanpa ucapan salam, gerimis datang perlahan. Membantu menciptakan suasana patah hati yang tak terbendung. Tapi aku suka aroma ini, aroma yang khas dan menenangkan. Petrikor. Aroma hujan. Yang kini mengantarku pada kenangan bersamanya.


"Kenapa kau suka keluar saat hujan?" katanya setelah melihatku berlari menuju teras saat gerimis datang.

Dia hanya diam sambil ikut menarik nafas bersamaku. Entah mengapa, bagiku aroma hujan adalah obat. Dia bisa mengobati segala luka yang aku rasakan, apapun itu. 

"Apa kau masih suka aroma hujan?" tanyanya saat aku kembali berlari keluar saat hujan datang.
Aku hanya mengangguk sambil menutup mata. 

"Kalau kau harus memilih, kau pilih mana antara aku dan aroma hujan?" tanyanya sambil tersenyum memamerkan gigi taringnya yang panjang.

Aku tak menjawab, hanya menonjok kecil lengannya dan tertawa. Dia juga tertawa.

Dua bulan setelah itu aku tak bertemu lagi dengannya. Dia tak pernah datang lagi menemuiku. Patah hati. Itulah yang kurasa saat itu, saat dia tiba-tiba menghilang setelah membawa cintaku yang dalam. Saat itu juga aku mulai membencinya, entah kenapa aku benar-benar membencinya.

Hari itu sangat cerah, tapi ada gerimis di sana. Aku yang sedang menata koleksi bukuku dikagetkan oleh ketuk pintu yang kasar. Aku menghampirinya tergesa, dan saat kutahu siapa sosok di balik pintu, aku terdiam. Lama. Sangat lama. Kutatap matanya tajam, aku tunjukkan amarahku padanya. Tapi seketika aku terhanyut, aku hanyut oleh mata teduhnya. Tanpa tau kenapa, aku menangis. 

"Hai.. apa kabar? apa aku masih kalah dari aroma hujan?" tanyanya dengan senyumnya yang khas.
Bodohnya aku hanya diam, dan malah tersedu mendengarnya. Sungguh. Aku benar-benar rindu padanya. Rasa rinduku bahkan lebih besar dari kecewa.

"Kenapa? apa kau sakit?" tanyanya lagi.

Entah betapa sibuknya dia, hingga wajahnya terlihat semakin kurus sekarang. Dia juga tak sesegar dulu, hanya senyumnya saja yang masih sama. Karena aku merasa bersalah padanya, aku berniat memberi kejutan padanya. Aku akan memasakan makanan kesukaannya, dia pasti suka.

Sore ini langit masih cerah, dihiasi warna mega yang tampak mempesona. Aku menunggunya di teras rumah, karena dia berjanji akan datang. Hampir 2 jam aku menunggunya, aku mulai kesal. Untuk pertama kali, aku beranikan diri pergi ke rumahnya. 

Aku mendadak kaku, seluruh tubuhku kebas. Bendera kuning berkibar di sebelah pintu gerbangnya. Saat pintu itu terbuka, aku melihat tangisan pasrah ibunya. Ketabahan hati ayahnya. Penyesalan adik-adiknya. Perasaan kehilangan semua orang yang di sana. Aku mencarinya. Dimana dia? Aku belum berhasil menemukannya. Hingga seseorang datang menghampiriku, menepuk pundakku pelan. Dan berkata.

"Dia akan baik-baik saja di sana. Dia sudah berjuang keras. Ikhlaskanlah kak, aku tau dia sangat mencintaimu. Jangan buat dia sedih melihatmu seperti ini" katanya pelan. Dia memelukku erat, dan kami tersedu bersama.

Teh di tanganku kini tak lagi terasa, saat air mataku mendadak berjatuhan. Kenangan yang tak ingin kuingat ikut hadir sore ini. Saat dia pergi meninggalkan semua perasaan yang kini tak bertuan. Dan sejak saat itu, aroma hujan bukan lagi menenangkan. Tapi menyesakkan. Karena aku tak bisa mengobati rasa rindunya.



"Aku suka aroma ini, menenangkan" jawabku sambil menarik nafas panjang.

"Apa? aku pasti memilih aroma hujan. Aku tipe cewek yang setia bukan?" jawabku sambil mengedipkan mata jahil padanya.

"Kenapa baru datang? Kemana saja kau?" tanyaku masih dengan sisa tangisan.

"Emm.. akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk. Ya. Aku sibuk sekali" katanya masih dengan tersenyum.
"Sungguh?" tanyaku penasaran.

"Ya.. aku benar-benar sibuk untuk mencoba tidak memikirkanmu" katanya yang membuat pipiku merah seketika.

"Aku tak ingin menang dari aroma hujan, karena aku pasti kalah. Tapi aku berjanji, saat kau mencium aroma hujan, saat itu pula aku merindukanmu. Jadi, kau juga harus rindu padaku" katanya lagi, kali ini terlihat dia sungguh-sungguh.






Kamis, 07 Juni 2018

Ya!


sungguh...
aku muak dengan ocehan serupa
suara-suara kosong yang terus bersua

seperti pertunjukan gulat,
berdalih untuk menjadi kuat
berpacu tuk jadi yang paling erat

nyatanya...
semua palsu tanpa jiwa
hampa tanpa rasa

yang ada hanya tawa...
bukan bahagia
bukan setia

tapi olokan...
bagi yang kau anggap pecundang
ya!

Jumat, 01 Juni 2018

Kopi Hitam


Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya. 

Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana. Beberapa kali kulihat ia mengusap rambutnya, menggaruknya sebentar walaupun sepertinya bukan karena gatal. Ia gelisah, sangat jelas dari sorot matanya. 

7.200 detik berlalu, dan aku tetap melihatnya, dia tak menyentuh sedikitpun cangkir di sebelah tangan kanannya. Dia hanya diam menatap rembulan, yang bisa kulihat sepi seperti dirinya. Malam ini tak ada bintang di sana, padahal bulan purnama begitu terang. Dia menghela nafas sejenak, sepertinya ia akan beranjak. Tapi nyatanya tidak, dia kembali duduk setelah mengambil sebuah kotak merah hati dari saku celananya. Ia buka perlahan, ia tatap dengan hangat, lalu ia tutup dengan begitu keras. Sorot matanya terlihat marah.

Aku bukan sutradara dari semua, aku tak tahu alasan sorot amarahnya. Yang bisa kutangkap, hanya rasa kecewa yang bahkan lebih besar dari indahnya purnama. Hatinya patah. Aku bisa memahaminya. Ia hancur, aku tau itu. Kini kulihat ia genggam erat kotak itu. Ia menutup mata sebentar, sepertinya untuk merelakan. Ia kembali berdiri, kini ia melangkah. Pelan. Tapi aku tau tujuannya. Tepat di sudut kanan dari tempatku bercerita, ia berhenti. Ia tatap air danau yang menunjukkan indahnya bayang purnama. Tanpa aba-aba, ia berteriak. Aku tersentak. Bukan karena terkejut, aku ikut merasa rapuh saat air matanya jatuh. Seakan aku dapat merasakan betapa pilunya pria itu. Ia masih menggenggam erat kotak merah hatinya, sepertinya ia tak kuasa untuk melempar jauh benda itu. Ia patah, tapi tidak hasratnya. Sorot matanya masih teguh, rasa sejatinya tak kan pernah hilang.

7.200 detik selanjutnya, aku hanya melihatnya tersedu sendirian. Aku berniat menghampirinya. Tapi, kuurungkan niat kala derap langkah perlahan mendekat. Wanita dengan gaun warna senada kotak itu menghambur dalam pelukannya. Mereka tersedu, aku tak tau apakah itu suka atau duka. Yang dapat kulihat, hanya sosok matanya yang sembab kini berbinar. Aku tau sekarang. Dialah alasan begitu rapuh dan bahagianya pria itu. Tanpa kusadari, air jatuh di pelupukku. Entah apa sebabnya aku tak tau. 

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...