Selasa, 04 Mei 2021

Fra (Sebuah Catatan)

Dinding rumahku lembab, pecah-pecah, dan sepertinya minta dicat ulang. Dulu warnanya biru muda, sekarang sudah pudar jadi abu-abu. Ya, abu-abu. Seperti dirimu yang kini entah seperti apa keadaannya. Yang ingin kutemui walau hanya di sela-sela mimpi, yang ingin kutemui walau sebatas gambaran kenangan masa lalu.  

Aku tidak suka abu-abu, aku lebih suka merah jambu atau cokelat madu. Tapi kamu tidak begitu, aku jadi bingung sebenarnya suka kamu atau sekedar mengagumi senyummu. Tepat sore itu, ketika senja tak kelihatan batang hidungnya, karena mendung lebih dulu berpesta, aku duduk di jok belakang sepeda motormu. Menggenggam erat kemeja kotak-kotak warna abu-abu yang kamu kenakan tanpa jaket kesukaanmu, karena jaketnya sudah membalut tubuhku, mengamankan gaun biru mudaku. Sedang hujan deras. Kita kebasahan, dan kamu keras kepala tidak ingin berteduh sebentar. Padahal sebenarnya aku sedikit lapar.

Katamu,
“aku suka bersamamu saat hujan, dengan begitu aku tidak takut lagi kenangan masa lalu yang menyakitkan menghantuiku”
“tapi, bukankah besok kebersamaaan kita hari ini akan menjadi masa lalu?”
“maka aku akan terus bersamamu besok, besoknya lagi, dan besok besoknya besok lagi”
“agar tidak takut kenangan masa lalu menghantuimu?”
“bukan, agar masa laluku hingga masa depanku hanya ada dirimu”
“hanya aku?”
“ya, hanya kamu, tak lebih atau kurang”.
 
Coba lihat? Aku masih hapal kata-katamu waktu itu. Apa aku masih jadi masa lalu dan masa depanmu? Atau sekarang sudah berkurang? Atau hanya menjadi masa lalu, yang selalu ingin kamu hindari ketika hujan menyapa ujung kepalamu, atau membasahi kaca jendela kamar tidurmu?
 
Apa kamu sadar? Kamu sudah pergi, dan itu sangat jauh. Hingga sampai rinduku menjamur tak ada sejengkalpun langkahmu menuju diriku. Sebenarnya di mana kamu? Bahkan hujan bilang tak pernah berjumpa denganmu. Apa kamu sembunyi dari hujan? Jika iya, aku paham karena kamu memang takut hujan. Tapi bagaimana denganku? Apa kamu sembunyi dariku juga? Bukankah aku yang selalu kamu jadikan tameng untuk melawan sendunya hujan yang datang padamu? Aku masih terus bertanya-tanya, perihal rasa yang dulu sempat kamu ungkapkan lewat kata-kata romantis lengkap dengan seikat bunga lily dan sebatang coklat warna putih, karena kamu tahu aku tidak pernah suka coklat warna coklat. Ke mana rasamu dulu? Hingga kamu pergi tanpa kata pamit, yang terus-terusan meninggalkan sesal padaku yang tak bisa menjaga genggammu.

Kini kamu telah pergi, tanpa ucapan selamat tinggal, dan tentu saja sambil membawa utuh perasaanku tanpa kamu sisakan sedikit untuk orang selain kamu. Fra, kamu pergi, tapi aku masih akan menunggumu. Karena pergi menjadi ada jika tujuannya adalah pulang, aku hanya berharap kamu kembali pulang, pada pintu hatiku yang kosong tanpamu.  Dengar ya Fra, jangan lama-lama perginya, jangan jauh-jauh sembunyinya. Karena sekarang, yang takut hujan bukan cuma kamu, tapi aku juga ketularan. 

Minggu, 02 Mei 2021

Apa kabar?

Sedang gerimis malam ini, lampu-lampu jalan terlihat sendu. Udara malam perlahan memeluk tubuh ini, meninggalkan kekosongan yang begitu menyakitkan. Apa kabar kamu? Laki-laki yang dulu pernah mengorbankan jaket kesayangannya untuk menahan hujan agar tidak berani mengecupku. Laki-laki yang memaki angin, hingga ia tak sempat mencolek sedikitpun tubuh mungilku. Harapanku selalu sama, semoga kamu baik-baik saja. Dari dulu, sampai sekarang. Dari saat di mana kamu menorehkan luka-luka yang tak berbekas namun sakitnya bertahan sampai sekarang, aku masih selalu berharap kamu baik-baik saja. 

Sekarang pukul delapan malam tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Aku menatap rintik yang jatuh, yang awalnya pelan hingga kencang dan penuh kegaduhan. Anehnya, aku masih merasa kosong. Entah itu karena aku sedang sendiri, atau karena hatiku telah kamu bawa lari? Sepertinya, alasan kedua lebih tepat, atau dua-duanya memang tepat.

Aku tarik selimut yang sempat aku lemparkan jauh dari kakiku, tadinya belum sedingin sekarang. Aku baca lagi surat-surat darimu, aku baru sadar kalau semuanya hanya berarti di mataku, bukan di matamu. Jadi ini yang membuatmu pergi? Karena memang sejak awal kamu tidak berniat untuk tinggal. Tapi untungnya, kamu masih mau singgah, walau hanya sebentar. 

Aku melirik jam dinding di dekat sudut kamarku, sudah pukul sepuluh ternyata, walau masih kurang setengah menit lagi. Pantas saja, hujan di luar sudah tidak lagi terdengar. Aku terlalu sibuk hanyut dalam kenangan hingga lupa pukul berapa hujannya berhenti. Padahal aku punya janji mengabarkannya pada bintang-bintang yang menanti di balik awan mendung. Tapi, sepertinya bulan sudah menggantikanku, buktinya telah kulihat beberapa kerlip di langit saat ini. Dan sekali lagi wajahmu ikut muncul, kini dengan senyum bahagia di lengkapi lukisan gemintang yang mewakili sinar matamu. Seketika itu, aku jatuh cinta lagi.

Cahaya hangat tiba-tiba mengecup keningku. Sudah pagi ternyata, dan aku ketiduran di dekat jendela yang mungkin dari semalam masih terbuka lebar. Lalu, benakku kembali mengingat pertanyaan itu. Apa kabar kamu? Pertanyaan yang setiap hari kulontarkan walaupun tak sekalipun kamu menjawabnya. Mungkin sekarang itu akan menjadi kebiasaan, menanyakan kabarmu akan menjadi kebiasaan baruku. Dan yang namanya kebiasaan, jika tidak dilakukan akan terasa tidak nyaman. Jadi, biarkan aku selalu menanyakan kabarmu, berapa kalipun tolong ijinkan aku. Karena hanya itu satu-satunya caraku menyembuhkan luka-luka yang pernah kamu berikan. Dulu.

Fra (Rasa yang Tak Pernah Nyata)

Pada senja yang terus-terusan mengetuk kaca jendelaku, aku memohon. Menyampaikan padamu agar sebentar saja mengijinkanku menatap matamu. Walau hanya sebatas mimpi singkat ketika aku ketiduran sebelum malam. Sederhana bukan? Bagaimana bisa kamu terlalu pelit untuk mewujudkannya? Apakah hal sederhana itu terlalu mahal Fra? Untuk aku yang memang bukan menjadi arah tujuan pelabuhanmu. Tapi, dalam sebuah perjalanan selalu ada tempat untuk singgah kan? Kenapa tak kamu jadikan aku sesuatu seperti itu? Walau hanya singgah, setidaknya aku bisa melepas lelahmu. Bukan begitu Fra? Tentu saja jawaban yang kamu berikan hanya senyuman. Aku sudah hapal betul pada tingkahmu. Terlalu sulitnya menggapai dirimu, hingga kata-kata bahkan tidak betah ke luar dari mulutmu.

Ketahuilah Fra, bahkan sampai berkali-kali aku menangis karena merindukanmu. Tak sedikitpun aku bisa melupakan perasaanku yang dengan tidak sopan telah kusematkan padamu. Dan tak ada sedikitpun sesal yang datang padaku, karena ia tahu aku benar-benar mencintaimu begitu terlalu. Bagaimanapun juga kamu adalah satu-satunya manusia paling berharga dalam hidupku. Mungkin aku terlalu berlebihan mengatakan hal itu, karena bagimu aku hanya sebatas teman perjalanan. Yang kapanpun bisa saja kamu tinggalkan tanpa perlu penyesalan. Ya, aku memang seperti itukan di matamu Fra? Walaupun sikap manis yang kamu berikan begitu besar padaku, tapi aku tau itu hanya sementara. Karena, sekali lagi aku memang bukan tujuanmu. 

Tapi, bolehkan aku berharap lagi? Bahwa suatu saat nanti kamu akan berbalik arah dan merubah tujuanmu. Pergi ke arahku, menggenggam lagi jemariku, dan melangkah bersama membangun lagi mimpi-mimpi yang dulu sempat kita ukir bersama. 



Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...