Katamu,
“aku suka bersamamu saat hujan, dengan begitu aku tidak takut lagi kenangan masa lalu yang menyakitkan menghantuiku”
“tapi, bukankah besok kebersamaaan kita hari ini akan menjadi masa lalu?”
“maka aku akan terus bersamamu besok, besoknya lagi, dan besok besoknya besok lagi”
“agar tidak takut kenangan masa lalu menghantuimu?”
“bukan, agar masa laluku hingga masa depanku hanya ada dirimu”
“hanya aku?”
“ya, hanya kamu, tak lebih atau kurang”.
Coba lihat? Aku masih hapal kata-katamu waktu itu. Apa aku masih jadi masa lalu dan masa depanmu? Atau sekarang sudah berkurang? Atau hanya menjadi masa lalu, yang selalu ingin kamu hindari ketika hujan menyapa ujung kepalamu, atau membasahi kaca jendela kamar tidurmu?
Apa kamu sadar? Kamu sudah pergi, dan itu sangat jauh. Hingga sampai rinduku menjamur tak ada sejengkalpun langkahmu menuju diriku. Sebenarnya di mana kamu? Bahkan hujan bilang tak pernah berjumpa denganmu. Apa kamu sembunyi dari hujan? Jika iya, aku paham karena kamu memang takut hujan. Tapi bagaimana denganku? Apa kamu sembunyi dariku juga? Bukankah aku yang selalu kamu jadikan tameng untuk melawan sendunya hujan yang datang padamu? Aku masih terus bertanya-tanya, perihal rasa yang dulu sempat kamu ungkapkan lewat kata-kata romantis lengkap dengan seikat bunga lily dan sebatang coklat warna putih, karena kamu tahu aku tidak pernah suka coklat warna coklat. Ke mana rasamu dulu? Hingga kamu pergi tanpa kata pamit, yang terus-terusan meninggalkan sesal padaku yang tak bisa menjaga genggammu.
Kini
kamu telah pergi, tanpa ucapan selamat tinggal, dan tentu saja sambil membawa
utuh perasaanku tanpa kamu sisakan sedikit untuk orang selain kamu. Fra, kamu
pergi, tapi aku masih akan menunggumu. Karena pergi menjadi ada jika tujuannya adalah pulang, aku hanya berharap kamu kembali pulang, pada pintu hatiku yang kosong
tanpamu. Dengar ya Fra, jangan lama-lama
perginya, jangan jauh-jauh sembunyinya. Karena sekarang, yang takut hujan bukan
cuma kamu, tapi aku juga ketularan.