Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya. Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana...
Komentar
Posting Komentar