Selasa, 17 Agustus 2021

Fra (Saatnya Membuka Kunci Luka Ini)

Kali ini aku percaya Fra, ketika segenggam luka tidak terlalu digenggam maka ia akan terlepas sendirinya. Begitu pula dengan sekotak luka yang pernah kamu hadiahkan padaku waktu hujan terakhir di hari Minggu sebelum perpisahan itu. Dulu aku menyimpannya rapat, menyembunyikan kuncinya, dan menutupi rupanya, agar orang-orang tidak pernah menemukannya. Karena aku hanya ingin kamu seorang, hanya ingin kamu yang membukanya dan mencoba menyembuhkannya. Namun, sampai saat aku menulis kalimat tadi, belum ada tanda-tanda kamu akan kembali, bahkan bayangmu tidak pernah kelihatan lagi setelah kamu memaksaku untuk menghentikan semua perasaan itu. 

Dan apa kau tau Fra? Setelah beberapa kali aku tertampar kenyataan, aku masih terus-terusan berkhayal untuk selalu berada di sampingmu. Kalaupun harus jauh darimu, aku hanya ingin sebatas ujung penglihatan matamu. Karena memang begitulah rasaku padamu, ketika kamu meminta hatiku untuk pertama kalinya, aku langsung memberimu semuanya tanpa tersisa. Kamu sangat beruntung Fra, sedang aku masih terus-terusan mencoba berlapang dada melepaskan hatimu yang kamu minta untuk dikembalikan.

Tapi hari ini berbeda, entah karena angin apa aku memutuskan untuk membuka kotak luka itu. Membiarkannya terbang bersama angin dingin pagi hari, di bawah tatapan langit yang ikut-ikutan sendu. Awalnya memang berat, tapi setelah isi kotaknya lenyap ternyata aku bisa baik-baik saja. Sepertinya luka-luka yang kusembunyikan bukan darimu, tapi dariku yang sejak awal tidak berani membuka kunci itu. Pantas saja mereka meronta-ronta ingin keluar bersama air mata setiap aku mengingat punggungmu yang menjauh hari itu. Andai saja aku paham, sudah sejak lama aku lepas, bahkan sejak melepas langkahmu menjauh untuk pertama kalinya. Agar tidak hanya hatiku yang kamu kantongi dan bawa pergi, tapi luka-luka yang tercipta semenjak aku memutuskan mencintamu. 

Ternyata melegakan Fra, ketika menatap isi kotaknya kosong aku sedikit bahagia. Iya sedikit, karena bahagiaku yang terbanyak hanya saat bersamamu. Tapi untungnya masih ada yang tersisa, bukankah kata pepatah "sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit", jadi aku akan mulai memberanikan diri membagi hal sedikit itu pada orang yang kini sedang mencoba memupuk kembali hatiku, agar tumbuh subur, dan kemudian disirami dengan cinta agar berbunga bersamanya. 

Jadi, tujuanku menulis kali ini adalah mengucapkan selamat tinggal padamu yang memang terlalu telat untuk aku ucapkan. Semoga kamu bahagia di sana, dan aku harap jangan pernah kembali lagi. Lupakan permintaan konyolku waktu itu, dan tetaplah pada arah kisahmu.

Dan aku, akan mencoba menjadi kuncup untuk nantinya bisa mekar tanpamu. Kini aku tak akan lagi menulis namamu di judul tulisanku, selamat tinggal dan jangan ada kata "sampai jumpa". Karena perjuangan membuka kunci luka amat sangat berat. 

Fra, kita selesai. 

Sabtu, 10 Juli 2021

Kotak Surat

Sepucuk surat terkirim sore itu, aku titipkan pada burung camar yang melintas di langit dekat jendelaku. Aku harap suratnya sampai ke kamu, soalnya isinya penuh rindu. Tadinya aku mau titipkan ke tukang pos yang setiap pagi lewat di jalanan depan rumahku, tapi aku malu soalnya tukang posnya kenalan ayahku. Kamu tahu kan aku ini pemalu, sampai aku malu memikirkan wajahmu ketika tik-tok jam berbunyi di meja belajarku. Aku takut ia mengadu pada ibu, karena ibu suka sekali mengejekku. 

Surat itu aku tulis dini hari tadi. Aku tulis semua kata yang mampir di kepalaku ketika merindukanmu, tak ada yang aku lewatkan bahkan satu katapun. Jadi, saat kamu membaca dan kalimatnya terlalu mengada-ngada jangan ditertawakan, karena aku malu. Pukul setengah lima tadi aku sudah sampai pada paragraf kedua, tidak butuh waktu lama untukku menyelesaikan paragraf pertama karena isinya hanya tentang menanyakan kabarmu di kota yang jauh di sana. Yang ini agak susah, karena aku harus menceritakan padamu apa saja yang aku lakukan ketika tanpamu. Aku juga bingung, alasan kenapa aku harus mengabarimu, karena tak ada yang lebih menyenangkan dari pada bersamamu. Bahkan hanya diam dan memandang wajahmu saja aku sudah bahagia.

Ingat ya, nanti kalau kamu sudah menerima suratku jangan di baca dulu. Tunggu instruksi hujan, kalau ia sudah bilang iya maka kamu boleh membacanya. Jadi, kalau langit sudah mendung kamu harus siap-siap. Duduk di kursi favoritmu dan menanti waktu yang tepat untuk membuka suratku. Lalu, kalau sudah dibaca jangan langsung dibalas, karena aku lebih suka menanti balasan surat yang agak lama, biar ketika sampai perasaan yang datang berlipat ganda.

Oh iya, kotak suratmu mungkin akan sedikit berdebu minggu depan, karena mungkin aku kesusahan mengirim surat padamu. Camar yang biasa lewat, kemarin malam di tembak pemburu tak bertanggung jawab, untungnya sekarang mereka sudah di tempat yang tepat. Di dalam jeruji besi bersama penyesalan dan kerinduan pada keluarga. Tapi kamu jangan sedih, aku akan mengirim beberapa surat minggu berikutnya, kali ini aku mau memberanikan diri menitipkan pada tukang pos kenalan ayahku. Tapi rahasia, agar ayah tak bilang ibu dan ibu tak jadi mengajak adik-adikku untuk mengejekku.

Sudah dulu ya, aku ingin cepat-cepat tidur. Agar hari-hari cepat berlalu dan kita segera dihampiri temu. Karena seberapa seringpun suratku memeluk telapak tanganmu, masih belum cukup jika belum kupeluk erat dirimu. Ditemani bayangan kita berdua yang terlihat bahagia, bersamaan dengan terik yang menjadikan langit tak berwarna abu-abu. Dengan perpaduan biru muda dan putih keemasan, aku membayangkaan saat tiba waktunya aku menatap senyummu dengan nyata. Senyata perasaan kita, yang aku harap tak hanya sekedar buaian semata. Karena hanya denganmu, aku berani berharap pelangi bahkan ketika hujan deras di malam hari.

Selasa, 04 Mei 2021

Fra (Sebuah Catatan)

Dinding rumahku lembab, pecah-pecah, dan sepertinya minta dicat ulang. Dulu warnanya biru muda, sekarang sudah pudar jadi abu-abu. Ya, abu-abu. Seperti dirimu yang kini entah seperti apa keadaannya. Yang ingin kutemui walau hanya di sela-sela mimpi, yang ingin kutemui walau sebatas gambaran kenangan masa lalu.  

Aku tidak suka abu-abu, aku lebih suka merah jambu atau cokelat madu. Tapi kamu tidak begitu, aku jadi bingung sebenarnya suka kamu atau sekedar mengagumi senyummu. Tepat sore itu, ketika senja tak kelihatan batang hidungnya, karena mendung lebih dulu berpesta, aku duduk di jok belakang sepeda motormu. Menggenggam erat kemeja kotak-kotak warna abu-abu yang kamu kenakan tanpa jaket kesukaanmu, karena jaketnya sudah membalut tubuhku, mengamankan gaun biru mudaku. Sedang hujan deras. Kita kebasahan, dan kamu keras kepala tidak ingin berteduh sebentar. Padahal sebenarnya aku sedikit lapar.

Katamu,
“aku suka bersamamu saat hujan, dengan begitu aku tidak takut lagi kenangan masa lalu yang menyakitkan menghantuiku”
“tapi, bukankah besok kebersamaaan kita hari ini akan menjadi masa lalu?”
“maka aku akan terus bersamamu besok, besoknya lagi, dan besok besoknya besok lagi”
“agar tidak takut kenangan masa lalu menghantuimu?”
“bukan, agar masa laluku hingga masa depanku hanya ada dirimu”
“hanya aku?”
“ya, hanya kamu, tak lebih atau kurang”.
 
Coba lihat? Aku masih hapal kata-katamu waktu itu. Apa aku masih jadi masa lalu dan masa depanmu? Atau sekarang sudah berkurang? Atau hanya menjadi masa lalu, yang selalu ingin kamu hindari ketika hujan menyapa ujung kepalamu, atau membasahi kaca jendela kamar tidurmu?
 
Apa kamu sadar? Kamu sudah pergi, dan itu sangat jauh. Hingga sampai rinduku menjamur tak ada sejengkalpun langkahmu menuju diriku. Sebenarnya di mana kamu? Bahkan hujan bilang tak pernah berjumpa denganmu. Apa kamu sembunyi dari hujan? Jika iya, aku paham karena kamu memang takut hujan. Tapi bagaimana denganku? Apa kamu sembunyi dariku juga? Bukankah aku yang selalu kamu jadikan tameng untuk melawan sendunya hujan yang datang padamu? Aku masih terus bertanya-tanya, perihal rasa yang dulu sempat kamu ungkapkan lewat kata-kata romantis lengkap dengan seikat bunga lily dan sebatang coklat warna putih, karena kamu tahu aku tidak pernah suka coklat warna coklat. Ke mana rasamu dulu? Hingga kamu pergi tanpa kata pamit, yang terus-terusan meninggalkan sesal padaku yang tak bisa menjaga genggammu.

Kini kamu telah pergi, tanpa ucapan selamat tinggal, dan tentu saja sambil membawa utuh perasaanku tanpa kamu sisakan sedikit untuk orang selain kamu. Fra, kamu pergi, tapi aku masih akan menunggumu. Karena pergi menjadi ada jika tujuannya adalah pulang, aku hanya berharap kamu kembali pulang, pada pintu hatiku yang kosong tanpamu.  Dengar ya Fra, jangan lama-lama perginya, jangan jauh-jauh sembunyinya. Karena sekarang, yang takut hujan bukan cuma kamu, tapi aku juga ketularan. 

Minggu, 02 Mei 2021

Apa kabar?

Sedang gerimis malam ini, lampu-lampu jalan terlihat sendu. Udara malam perlahan memeluk tubuh ini, meninggalkan kekosongan yang begitu menyakitkan. Apa kabar kamu? Laki-laki yang dulu pernah mengorbankan jaket kesayangannya untuk menahan hujan agar tidak berani mengecupku. Laki-laki yang memaki angin, hingga ia tak sempat mencolek sedikitpun tubuh mungilku. Harapanku selalu sama, semoga kamu baik-baik saja. Dari dulu, sampai sekarang. Dari saat di mana kamu menorehkan luka-luka yang tak berbekas namun sakitnya bertahan sampai sekarang, aku masih selalu berharap kamu baik-baik saja. 

Sekarang pukul delapan malam tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Aku menatap rintik yang jatuh, yang awalnya pelan hingga kencang dan penuh kegaduhan. Anehnya, aku masih merasa kosong. Entah itu karena aku sedang sendiri, atau karena hatiku telah kamu bawa lari? Sepertinya, alasan kedua lebih tepat, atau dua-duanya memang tepat.

Aku tarik selimut yang sempat aku lemparkan jauh dari kakiku, tadinya belum sedingin sekarang. Aku baca lagi surat-surat darimu, aku baru sadar kalau semuanya hanya berarti di mataku, bukan di matamu. Jadi ini yang membuatmu pergi? Karena memang sejak awal kamu tidak berniat untuk tinggal. Tapi untungnya, kamu masih mau singgah, walau hanya sebentar. 

Aku melirik jam dinding di dekat sudut kamarku, sudah pukul sepuluh ternyata, walau masih kurang setengah menit lagi. Pantas saja, hujan di luar sudah tidak lagi terdengar. Aku terlalu sibuk hanyut dalam kenangan hingga lupa pukul berapa hujannya berhenti. Padahal aku punya janji mengabarkannya pada bintang-bintang yang menanti di balik awan mendung. Tapi, sepertinya bulan sudah menggantikanku, buktinya telah kulihat beberapa kerlip di langit saat ini. Dan sekali lagi wajahmu ikut muncul, kini dengan senyum bahagia di lengkapi lukisan gemintang yang mewakili sinar matamu. Seketika itu, aku jatuh cinta lagi.

Cahaya hangat tiba-tiba mengecup keningku. Sudah pagi ternyata, dan aku ketiduran di dekat jendela yang mungkin dari semalam masih terbuka lebar. Lalu, benakku kembali mengingat pertanyaan itu. Apa kabar kamu? Pertanyaan yang setiap hari kulontarkan walaupun tak sekalipun kamu menjawabnya. Mungkin sekarang itu akan menjadi kebiasaan, menanyakan kabarmu akan menjadi kebiasaan baruku. Dan yang namanya kebiasaan, jika tidak dilakukan akan terasa tidak nyaman. Jadi, biarkan aku selalu menanyakan kabarmu, berapa kalipun tolong ijinkan aku. Karena hanya itu satu-satunya caraku menyembuhkan luka-luka yang pernah kamu berikan. Dulu.

Fra (Rasa yang Tak Pernah Nyata)

Pada senja yang terus-terusan mengetuk kaca jendelaku, aku memohon. Menyampaikan padamu agar sebentar saja mengijinkanku menatap matamu. Walau hanya sebatas mimpi singkat ketika aku ketiduran sebelum malam. Sederhana bukan? Bagaimana bisa kamu terlalu pelit untuk mewujudkannya? Apakah hal sederhana itu terlalu mahal Fra? Untuk aku yang memang bukan menjadi arah tujuan pelabuhanmu. Tapi, dalam sebuah perjalanan selalu ada tempat untuk singgah kan? Kenapa tak kamu jadikan aku sesuatu seperti itu? Walau hanya singgah, setidaknya aku bisa melepas lelahmu. Bukan begitu Fra? Tentu saja jawaban yang kamu berikan hanya senyuman. Aku sudah hapal betul pada tingkahmu. Terlalu sulitnya menggapai dirimu, hingga kata-kata bahkan tidak betah ke luar dari mulutmu.

Ketahuilah Fra, bahkan sampai berkali-kali aku menangis karena merindukanmu. Tak sedikitpun aku bisa melupakan perasaanku yang dengan tidak sopan telah kusematkan padamu. Dan tak ada sedikitpun sesal yang datang padaku, karena ia tahu aku benar-benar mencintaimu begitu terlalu. Bagaimanapun juga kamu adalah satu-satunya manusia paling berharga dalam hidupku. Mungkin aku terlalu berlebihan mengatakan hal itu, karena bagimu aku hanya sebatas teman perjalanan. Yang kapanpun bisa saja kamu tinggalkan tanpa perlu penyesalan. Ya, aku memang seperti itukan di matamu Fra? Walaupun sikap manis yang kamu berikan begitu besar padaku, tapi aku tau itu hanya sementara. Karena, sekali lagi aku memang bukan tujuanmu. 

Tapi, bolehkan aku berharap lagi? Bahwa suatu saat nanti kamu akan berbalik arah dan merubah tujuanmu. Pergi ke arahku, menggenggam lagi jemariku, dan melangkah bersama membangun lagi mimpi-mimpi yang dulu sempat kita ukir bersama. 



Jumat, 23 April 2021

Fra (Sebuah Kepingan)

 
Pada terik yang mengantarkan senyum di wajahmu, aku sungguh-sungguh ingin mengabarkan. Bahwa kepergianmu yang terjadi satu hari setelah hari Minggu adalah sama sekali bukan salahmu. Karena sejak awal aku memang tidak punya hak untuk membuatmu tinggal. Aku bukan rumah, jadi tidak heran kalau kamu tidak menjadikanku alasan untuk pulang. "Bukankah pulang belum tentu selalu menuju rumah?" Tanya seekor burung Dara yang suka bertengger di ranting pohon dekat jendela kamarku. Kamu tau apa jawaban yang aku berikan? Tentu saja aku diam, karena tanpa dirimu, tak ada kata yang berhasil menjadi kalimat. Semua jadi samar-samar dan hanya mengambang di udara lalu hilang bersama angin yang juga membawa dedaunan kering bermigrasi.

Ketika malam telah mengintip lewat lubang kecil di tembok kamarku, aku baru menyadari, bahwa seharian ini tak ada apapun yang kulakukan selain mengingat kepergianmu, yang tentu saja hanya menjadi kisah pilu bagiku. Karena bagi dirimu, itu bukan sebuah kepergian, hanya sebuah peristiwa ketika kita tak akan bertemu lagi. Sepertinya definisi yang ada di kepalamu tidak memberikan rasa nyeri yang berkepanjangan bukan? Benar bukan? Kamu bahkan terlihat bersemangat ketika meninggalkan ujung mataku yang terus menatap punggungmu menjauh.

Dalam setiap hela yang aku embuskan, aku tidak pernah bisa melupakan segala rasa yang kamu ciptakan untuk menghilangkan segala kegundahan, yang ujung-ujungnya malah makin membara semenjak kamu pergi. Entah apa yang membuatku terlalu dalam tertarik olehmu, bahkan tak sedetikpun aku bisa melupakan segala macam tentangmu. Bahkan desah napasmu pun aku sangat hapal. Sebenarnya, ramuan apa yang kamu berikan padaku hingga aku bisa jatuh padamu dengan terlalu. Jika ramuan itu terlalu manjur, seharusnya kamu berikan penawarnya sebelum kamu memutuskan untuk tak lagi bertemu denganku. Agar aku tidak terus-terusan lapar oleh manisnya senyummu, agar aku tak lagi haus oleh kata-kata indahmu, agar dirimu tak lagi menjadi alasan hilangnya dahagaku.

Bukankah jika begitu aku pantas menyebutmu egois? Sepertinya tidak boleh, karena pada paragraf pertama aku sudah bilang bahwa semua ini bukan salahmu. Tentu aku tidak boleh mengkhianati kata-kataku sendiri, agar kamu juga percaya bahwa rasaku padamu tak pernah berpindah-pindah. Selalu pada tempat pertama, di relung terdalam. Jadi, Fra, apa kamu benar-benar tak akan kembali? Walaupun aku tau tidak ada kata itu dalam kalimat-kalimat perpisahan yang kamu lisankan sebelum melepas genggaman itu. Jika memang begitu, aku akan menyerah menantimu. Tapi, untuk menyerah pada rasaku padamu, jujur saja aku tak pernah bisa. Karena bagiku, Fra adalah salah satu kepingan hidup Jana.

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...