Minggu, 28 Oktober 2018

Kolase dalam Renjana Biru


Disaksikan senja yang sebentar lagi berubah jadi gelap, bersamaan dengan burung-burung yang pulang ke sarangnya, ia pun tercengang. Dilihatnya wajah biru ibu dan ayahnya yang tak bisa lagi mempertahankan genggaman pada lengannya. Cairan merah yang mengalir dari dahinya tak kental lagi karena bercampur oleh air mata penyesalan. Ia tatap mata kedua orang tuanya yang terpejam, ia usap rambut kedua orang tuanya yang kini bersimbah darah. Pandangannya pudar, seketika pula dia tertunduk. Pilu.

Lama ia merangkai keping-keping peristiwa yang ia lalui sore itu. Sebagai bocah 6 tahun yang baru mulai bersekolah, kejadian mengerikan itu bagai tumpahan tinta hitam pada lukisan gambar pelangi kesukaannya, yang ia banggakan di hadapan ibu dan ayahnya saat malam sebelum berangkat tidur.

Perlahan ia mendongak, tatapan sucinya kini berubah murka. Ia bukan lagi bocah polos yang hanya mengagumi cerita kesatria baik hati seperti dongeng yang selalu dibacakan ibunya setiap malam. Ia memandang lelaki berotot yang masih menggenggam pistol petaka itu. Bersamaan dengan tawa lelaki itu, ia berteriak. Kencang. Begitu kencangnya, hingga menghentikan tawa lelaki berotot yang kini menatapnya mengerikan.

Dengan geram lelaki itu mencengkeram tangannya, menatap tajam dan mencondongkan pistol ke dahinya. Ia diam, tapi matanya masih menyorotkan dendam. Hingga dari kejauhan terdengar suara sirine polisi yang semakin lama semakin keras. Detik itu pula, ia kehilangan kesadaran dan tak lagi bisa membuka mata. Ia kesakitan, tapi ada senyum di bibirnya. Karena ia merasakan genggam hangat tangan kedua orang tuanya.  

Langit sangat indah sore itu, bersamaan dengan renjana biru dan embus angin yang sejuk. Sayangnya, lukisan angkasa ternodai oleh bercak merah tak berdosa keluarga baru yang merana. Tapi tak apa, kini sakit mereka telah reda. Kolase telah terbentuk, warna biru dengan semburat jingga menambah indahnya. Mereka bertiga tertawa, melangkah ringan menuju cahaya di hadapannya.


Jumat, 17 Agustus 2018

Senandika


Pertama kali aku melihatmu, aku tak pernah menyangka akan sedekat ini. Berhari-hari kita berada di tempat dan waktu yang sama. Melakukan kegiatan yang sama. Tapi tak pernah sekalipun berbincang. Hingga waktu mulai jengah dan mencoba memaksa kita untuk saling menyapa. Berawal dari candaan yang kamu ciptakan, aku tertawa lepas tanpa peduli kedekatan yang tercipta. Dan waktu masih terus mempererat kita agar semakin menciptakan kenangan bahagia. 

Maka hampir setiap hari, aku dan kamu tak pernah untuk saling diam. Kita yang sama-sama berisik membuat segala suasana tak lagi sepi. Ejekanmu yang menyebalkan, malah membuatku selalu ketagihan. Kita masih sebatas teman, tapi aku mulai nyaman. Tapi tak sedikitpun aku berharap lebih padamu, karena aku tau sejak awal siapa dirimu. Aku hanya bahagia jika bersamamu, bercanda denganmu dan tertawa bersama. Kamu juga begitu, selalu baik denganku seolah aku adik kecilmu.

Suatu hari kita pergi bersama, menikmati waktu yang kamu bilang itu hari perpisahan. Iya, kamu akan pulang. Dan aku semakin berat melepasmu kembali kepadanya. Kamu begitu baik, walaupun baik yang kamu ciptakan berbeda. Sebelum kepulanganmu, kita masih sering bersama. Bercanda tawa dan saling menjelekkan. Aku suka menggodamu dan kamu selalu pura-pura marah padaku. Tapi kamu selalu kalah, lalu tertawa. Lucu. Aku suka melihatmu begitu. Memang kamu lebih muda dariku, tapi kamu telihat begitu dewasa. Aku seperti mempunyai kakak laki-laki yang sangat peduli padaku.

Tinggal menghitung hari menuju kepulanganmu, pesan singkat darimu juga semakin sering muncul. Sekarang bukan sekedar menanyakan kegiatan atau bercanda. Kini mulai ada pesan-pesan perpisahan. Aku sedih setiap kamu bilang akan segera pergi. Karena mungkin sulit untuk kita bertemu lagi nantinya. Berbagi kabarpun pasti tak bisa sesering biasanya, karena kamu bilang hampir setiap hari dengannya.

Tepat di hari kamu akan pulang, semalam kita tertawa bersama melepas segala kenangan yang pernah kita ciptakan. Tawa hingga air mata telah aku keluarkan sebelum hari ini. Semakin dekat dengan waktu kepulanganmu, entah mengapa terasa berat. Aku berat melepasmu dan kamu bilang berat berpisah dariku. Lalu kamu mengirim pesan singkat lagi padaku, di sela kegiatanku yang tidak lagi ada kamu. Kamu memancingku untuk berterus terang akan rasaku. Iya, aku sayang padamu. Kamu bilang kenapa semua terungkap ketika kamu akan pergi. Karena aku takut semakin berat melepasmu pulang. Dan aku tak pernah mengira, kamu juga menyatakan rasa. Kamu bilang sayang padaku, tapi kamu sudah bersamanya dan jarak memisahkan kita. Kamu meminta maaf padaku karena telah memiliki perasaan seperti itu. Aku tertegun, aku bingung. Aku senang, tapi aku takut kamu hanya bercanda atau sekedar menyenangkan diriku. Aku takut berharap.

Saat kamu dalam perjalanan pulang, kamu kembali mengirim pesan padaku. Pesan yang melukiskan betapa berat meyakini bahwa kita akan berpisah. Betapa berat meyakini bahwa kita akan bertemu lagi. Entah kapan.

Kamu bilang aku harus bahagia, walau tanpa dirimu. Tenang. Aku berjanji akan melakukannya.

Sempat aku resah, saat kamu tiba di rumah. Tak ada kabar lagi tentangmu, bahkan hampir 48 jam. Aku sudah tau apa sebabnya, karena kamu pernah memberitahuku sebelumnya. Aku mencoba kuat, tapi ternyata berat. Aku mencoba tegar, tapi ternyata berat. Aku bahkan tak pernah mengira rasanya akan sesakit ini.

Aku resah sepanjang hari, entah apa sebabnya. Aku kehilangan semangat. Dan akhirnya kamu kembali menghubungiku. Kamu kembali muncul dalam hariku. Sungguh, aku bahagia walaupun kamu bukan untukku. Aku bahagia karena melihatmu bahagia di sana. Aku juga bersyukur, kamu memiliki dia yang terus mencintaimu. Dia yang lebih bisa membahagiakanmu dari pada aku.

Kini, aku ingin menutup kisah kita. Bukan lagi dengan kesedihan. Tapi dengan senyum bahagia.

Mari bahagia bersama, walau dengan orang yang tak lagi sama.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Entah Rindu atau Rela


Cukup sampai di sini saja kisahnya. 
Jangan meminta lagi tentang rasa. 
Karena semua sudah tak ada.
Kini tinggal masing-masing mengukir cerita.
Berbeda tentu saja.
Dan untuk orang yang tak sama.
Karena kini waktu mulai bicara.
Pada embus angin yang rela.


Di balik gunung ini, kisah kita mulai berawal. Dan kuingin, kisahnya tak akan berakhir. Tapi takdir berkata lain. Hingga hari ini pun datang, hari dimana semua kisah harus diakhiri. Tapi satu yang harus kamu ketahui disini ada hati yang selalu bersamamu. Dan mulai sekarang, biarkan waktu yang meneruskan bagiannya.

Andai saja waktu dapat aku putar kembali, aku ingin kisah ini takkan pernah berakhir secepat ini, walaupun harus berakhir biarlah berakhir dengan semestinya. Sudah banyak kisah yang telah dilalui, sekarang giliranku untuk mengenang cerita ini. Kisah yang dimana kau dan aku hampir menjadi KITA.

Karena hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melupakan itu terserah hatimu. Hatimu yang tau. Memang hati sudah memilih, tapi jangan pernah melupakan cerita disaat kau dan aku pernah tertawa bersama. Karena dibalik setiap tawa selalu ada cerita yang istimewa. Maka tak akan kulupa walau waktu memaksa tuk melupa. Jika memang waktu memaksamu untuk melupakan semua, cuma satu pesanku "jangan lupa bahagia".

Karena kau salah satu alasanku untuk bahagia, maka kau selalu jadi tokoh utama. Jika memang aku alasan utamamu bahagia, maka jangan pernah berdiri di belakangku karena kamu bukan Tuhan ku, tapi berdirilah disampingku karena kamu penyemangatku. Marilah berjalan bersama, saling menguatkan tanpa saling  mematahkan.

Aku tak merencanakan untuk mencintaimu, tapi aku bahagia melakukannya. Karena bahagia bukan hanya karena mencinta. Ada saatnya kau harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintainya, tetapi demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama dan orang yang sama. Dan juga tak ingin melukai hati yang lain.

Mencintaimu adalah bahagia dan sedih,  bahagia karena memilikimu dalam kalbu, sedih karena kita sering berpisah. Merindukanmu adalah kewajiban dan larangan, kewajiban untuk selalu memikirkanmu dan larangan untuk berharap padamu. Orang berubah, perasaan berubah. Itu bukan berarti bahwa cinta yang pernah sekali kita bagi tidak benar dan nyata.




**Collaboration 


Selasa, 12 Juni 2018

Petrikor


Tak kulihat senja hari ini, hanya semilir angin dingin dan langit kelabu. Bersama secangkir teh hangat di tangan kananku, aku melamun. Membayangkan kisah sedih di masa lalu, berbagai adegan menyakitkan saling beradu. Lalu tanpa ucapan salam, gerimis datang perlahan. Membantu menciptakan suasana patah hati yang tak terbendung. Tapi aku suka aroma ini, aroma yang khas dan menenangkan. Petrikor. Aroma hujan. Yang kini mengantarku pada kenangan bersamanya.


"Kenapa kau suka keluar saat hujan?" katanya setelah melihatku berlari menuju teras saat gerimis datang.

Dia hanya diam sambil ikut menarik nafas bersamaku. Entah mengapa, bagiku aroma hujan adalah obat. Dia bisa mengobati segala luka yang aku rasakan, apapun itu. 

"Apa kau masih suka aroma hujan?" tanyanya saat aku kembali berlari keluar saat hujan datang.
Aku hanya mengangguk sambil menutup mata. 

"Kalau kau harus memilih, kau pilih mana antara aku dan aroma hujan?" tanyanya sambil tersenyum memamerkan gigi taringnya yang panjang.

Aku tak menjawab, hanya menonjok kecil lengannya dan tertawa. Dia juga tertawa.

Dua bulan setelah itu aku tak bertemu lagi dengannya. Dia tak pernah datang lagi menemuiku. Patah hati. Itulah yang kurasa saat itu, saat dia tiba-tiba menghilang setelah membawa cintaku yang dalam. Saat itu juga aku mulai membencinya, entah kenapa aku benar-benar membencinya.

Hari itu sangat cerah, tapi ada gerimis di sana. Aku yang sedang menata koleksi bukuku dikagetkan oleh ketuk pintu yang kasar. Aku menghampirinya tergesa, dan saat kutahu siapa sosok di balik pintu, aku terdiam. Lama. Sangat lama. Kutatap matanya tajam, aku tunjukkan amarahku padanya. Tapi seketika aku terhanyut, aku hanyut oleh mata teduhnya. Tanpa tau kenapa, aku menangis. 

"Hai.. apa kabar? apa aku masih kalah dari aroma hujan?" tanyanya dengan senyumnya yang khas.
Bodohnya aku hanya diam, dan malah tersedu mendengarnya. Sungguh. Aku benar-benar rindu padanya. Rasa rinduku bahkan lebih besar dari kecewa.

"Kenapa? apa kau sakit?" tanyanya lagi.

Entah betapa sibuknya dia, hingga wajahnya terlihat semakin kurus sekarang. Dia juga tak sesegar dulu, hanya senyumnya saja yang masih sama. Karena aku merasa bersalah padanya, aku berniat memberi kejutan padanya. Aku akan memasakan makanan kesukaannya, dia pasti suka.

Sore ini langit masih cerah, dihiasi warna mega yang tampak mempesona. Aku menunggunya di teras rumah, karena dia berjanji akan datang. Hampir 2 jam aku menunggunya, aku mulai kesal. Untuk pertama kali, aku beranikan diri pergi ke rumahnya. 

Aku mendadak kaku, seluruh tubuhku kebas. Bendera kuning berkibar di sebelah pintu gerbangnya. Saat pintu itu terbuka, aku melihat tangisan pasrah ibunya. Ketabahan hati ayahnya. Penyesalan adik-adiknya. Perasaan kehilangan semua orang yang di sana. Aku mencarinya. Dimana dia? Aku belum berhasil menemukannya. Hingga seseorang datang menghampiriku, menepuk pundakku pelan. Dan berkata.

"Dia akan baik-baik saja di sana. Dia sudah berjuang keras. Ikhlaskanlah kak, aku tau dia sangat mencintaimu. Jangan buat dia sedih melihatmu seperti ini" katanya pelan. Dia memelukku erat, dan kami tersedu bersama.

Teh di tanganku kini tak lagi terasa, saat air mataku mendadak berjatuhan. Kenangan yang tak ingin kuingat ikut hadir sore ini. Saat dia pergi meninggalkan semua perasaan yang kini tak bertuan. Dan sejak saat itu, aroma hujan bukan lagi menenangkan. Tapi menyesakkan. Karena aku tak bisa mengobati rasa rindunya.



"Aku suka aroma ini, menenangkan" jawabku sambil menarik nafas panjang.

"Apa? aku pasti memilih aroma hujan. Aku tipe cewek yang setia bukan?" jawabku sambil mengedipkan mata jahil padanya.

"Kenapa baru datang? Kemana saja kau?" tanyaku masih dengan sisa tangisan.

"Emm.. akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk. Ya. Aku sibuk sekali" katanya masih dengan tersenyum.
"Sungguh?" tanyaku penasaran.

"Ya.. aku benar-benar sibuk untuk mencoba tidak memikirkanmu" katanya yang membuat pipiku merah seketika.

"Aku tak ingin menang dari aroma hujan, karena aku pasti kalah. Tapi aku berjanji, saat kau mencium aroma hujan, saat itu pula aku merindukanmu. Jadi, kau juga harus rindu padaku" katanya lagi, kali ini terlihat dia sungguh-sungguh.






Kamis, 07 Juni 2018

Ya!


sungguh...
aku muak dengan ocehan serupa
suara-suara kosong yang terus bersua

seperti pertunjukan gulat,
berdalih untuk menjadi kuat
berpacu tuk jadi yang paling erat

nyatanya...
semua palsu tanpa jiwa
hampa tanpa rasa

yang ada hanya tawa...
bukan bahagia
bukan setia

tapi olokan...
bagi yang kau anggap pecundang
ya!

Jumat, 01 Juni 2018

Kopi Hitam


Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya. 

Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana. Beberapa kali kulihat ia mengusap rambutnya, menggaruknya sebentar walaupun sepertinya bukan karena gatal. Ia gelisah, sangat jelas dari sorot matanya. 

7.200 detik berlalu, dan aku tetap melihatnya, dia tak menyentuh sedikitpun cangkir di sebelah tangan kanannya. Dia hanya diam menatap rembulan, yang bisa kulihat sepi seperti dirinya. Malam ini tak ada bintang di sana, padahal bulan purnama begitu terang. Dia menghela nafas sejenak, sepertinya ia akan beranjak. Tapi nyatanya tidak, dia kembali duduk setelah mengambil sebuah kotak merah hati dari saku celananya. Ia buka perlahan, ia tatap dengan hangat, lalu ia tutup dengan begitu keras. Sorot matanya terlihat marah.

Aku bukan sutradara dari semua, aku tak tahu alasan sorot amarahnya. Yang bisa kutangkap, hanya rasa kecewa yang bahkan lebih besar dari indahnya purnama. Hatinya patah. Aku bisa memahaminya. Ia hancur, aku tau itu. Kini kulihat ia genggam erat kotak itu. Ia menutup mata sebentar, sepertinya untuk merelakan. Ia kembali berdiri, kini ia melangkah. Pelan. Tapi aku tau tujuannya. Tepat di sudut kanan dari tempatku bercerita, ia berhenti. Ia tatap air danau yang menunjukkan indahnya bayang purnama. Tanpa aba-aba, ia berteriak. Aku tersentak. Bukan karena terkejut, aku ikut merasa rapuh saat air matanya jatuh. Seakan aku dapat merasakan betapa pilunya pria itu. Ia masih menggenggam erat kotak merah hatinya, sepertinya ia tak kuasa untuk melempar jauh benda itu. Ia patah, tapi tidak hasratnya. Sorot matanya masih teguh, rasa sejatinya tak kan pernah hilang.

7.200 detik selanjutnya, aku hanya melihatnya tersedu sendirian. Aku berniat menghampirinya. Tapi, kuurungkan niat kala derap langkah perlahan mendekat. Wanita dengan gaun warna senada kotak itu menghambur dalam pelukannya. Mereka tersedu, aku tak tau apakah itu suka atau duka. Yang dapat kulihat, hanya sosok matanya yang sembab kini berbinar. Aku tau sekarang. Dialah alasan begitu rapuh dan bahagianya pria itu. Tanpa kusadari, air jatuh di pelupukku. Entah apa sebabnya aku tak tau. 

Senin, 28 Mei 2018

Kalah dari Benda Mati


"Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu. Atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu" 

Lirik lagu Dee Lestari masih terdengar di sudut gelap kamarku. Sekarang masih pukul 6 pagi, masih terlalu dini untuk beranjak dari selimut tebalku. Apalagi hari ini tanggal merah, aku tidak harus buru-buru pergi ke kampus. Dan aku memang tidak ada acara apapun hari ini. Kecuali, nanti ada orang teralay sedunia mengganggu tidurku. 

"Far.. ibu mau jenguk teman ayah di Rumah Sakit, kalau kamu sudah bangun segera sarapan. Ibu berangkat dulu" teriak ibu dari luar kamarku.
"Hmmm..." jawabku dengan malas.

Aku masih belum beranjak dari balik selimut ketika ponselku berbunyi. Dengan enggan aku meraih dan membukanya. Mataku langsung melotot ketika melihat nama yang tertera di layar ponselku. Aku tidak pernah membayangkan sedikitpun akan mendapat pesan darinya. Hati-hati aku membuka, hanya ada satu baris kalimat di sana. 

"Dik, laporan di kumpul hari ini" katanya lewat pesan. 

Ya, dia adalah asisten praktikumku. Dan aku satu-satunya praktikan yang belum mengumpulkan laporan. Bukan karena aku tidak disiplin, tapi gara-gara laptopku masuk tempat service. Untung saja dia mau memakhlumi alasanku, jadinya aku bisa mengumpulkan terlambat. 

"Baik Kak, dikumpulkan di mana?" kataku dengan wajah masih tersenyum riang. 

Entah mengapa hanya melihat namanya bertengger di layar ponselku aku sudah bahagia, aku bahkan tidak tau sejak kapan aku mulai gila seperti ini. Aku bahkan sering menggantikan ketua kelas untuk mengumpulkan tugas padanya, lebih tepatnya memaksa menggantikan. 

Senyumnya yang seperti orang malu-malu saat menjelaskan materi, malah membuatku semakin jatuh hati. Sayangnya, aku tak tahu apakah dia juga punya perasaan yang sama. Tapi aku rasa itu sangat tidak mungkin. 

"Langsung saja ke kontrakan saya nanti siang" balasnya setelah beberapa menit berlalu.
"Baik Kak, terima kasih" balasku semangat.

Kalian pasti tahu apa yang membuatku semangat, di hari libur harus pergi mengumpulkan laporan. Karena dengan begitu aku bisa melihat senyumnya hari ini, hanya itu saja membuatku bahagia. Apalagi bisa dekat dengannya tidak hanya sebatas asisten praktikum dan praktikannya. 

Siang ini langit tampak biru muda, tidak ada satupun awan di sana. Mungkin ia tau bagaimana isi hatiku saat ini. Aku mengendarai motorku dengan hati berbunga-bunga. Setelah sampai di depan kontrakannya, aku tak perlu mengetuk pintu karena sepertinya dia juga baru tiba. Dia memberikan senyum khasnya sambil memarkir motornya di bawah pohon mangga. 

"Selamat siang Kak, ini laporan saya yang belum dikumpul. Maaf ya Kak, Telat ngumpulinnya" kataku agak malu.
"Iya nggak apa-apa Dik, terima kasih" jawabnya masih dengan senyum manisnya.

Entah kenapa aku yang tipikal orang paling cerewet selalu kehilangan kata-kata di depannya, bahkan untuk terus menatapnya aku tidak sanggup. Aku harus segera pergi sebelum aku bertingkah memalukan. Padahal sejujurnya aku masih ingin menatapnya lebih lama, tapi akhirnya aku pamit pulang juga. Setelah aku sampai di depan gerbang kontrakan aku sempatkan menoleh lagi padanya. Sayangnya dia sudah melangkah masuk ke dalam dengan menggenggam laporanku erat. 

"Kamu selalu memenangkan tempat di hatiku, sedangkan aku selalu kalah hanya dari benda mati di sisimu" kataku dalam hati. 

Aku tertawa kecil dan berlalu meninggalkan kontrakannya dengan hati masih berbunga. 

Rabu, 07 Maret 2018

DDMS part 2


hampir 24 jam aku habiskan waktu bersamamu
bercanda tawa dan berbagi cerita
kamu bagaikan pelita yang menerangi dalam gelap malamku
kamu bagaikan angin yang menyejukkan nuraniku
aku bahkan tak sampai hati untuk membohongimu
aku mencintaimu. sungguh
tapi aku tak berani mengatakan padamu
dalam setiap detik yang kulalui bersamamu
membangun banyak pengkhianatan

banyak kebohongan datang silih berganti
hanya karena hatiku mulai goyah karena ulahmu
berkali-kali sudah aku maki diri ini
mencari celah untuk lari darimu
membuang semua pikirku tentangmu
menepis semua rasa rindu saat aku tak bersamamu

aku selalu takut menatap matamu
kamu yang paling tau tentangku
karena diam-diam mencintai sahabat sangat menyakitkan

DDMS


Diam-diam mencintai sahabat sendiri lebih menyakitkan dari diam-diam mencintai orang lain. Kita yang tak pernah saling menyembunyikan. Kita yang selalu jujur apa adanya. Kini terpaksa aku harus berbohong padamu. Wahai sahabat terkasihku. Aku mencintaimu walaupun aku tau seharusnya tidak aku lakukan. Entah, sudah berapa lama aku mencoba menepis semua perasaanku padamu. Mencoba menyadarkan diri bahwa aku dan kamu hanyalah sahabat. Tak lebih dan harusnya tak boleh lebih dari itu. 

Sangat sulit menyembunyikan semua yang aku rasa. Karena kamu adalah orang yang paling mengertiku. Harus bagaimana lagi aku menyembunyikan perasaanku agar tak terlihat di matamu. Aku bersembunyi bukan karena aku tak punya waktu. Aku sangat punya waktu untuk mengungkapkan semua padamu. Semua perasaan yang selama ini ku pendam. Tapi aku takut, aku takut kamu pergi. 

Aku takut kamu berubah karena pengakuanku. Tapi aku juga takut mengkhianatimu karena kebohongan yang ku lakukan. Ini sungguh membingungkan, sakit tapi aku harus berpura-pura baik-baik saja. 

Sabtu, 10 Februari 2018

Cinta Bayangan

Diantara kalian pasti pernah merasakan cinta pada orang yang kalian tidak  tahu apakah ia juga mencintaimu. Biasanya  orang menyebutnya cinta dalam diam, yang membuat sang pelaku berperan sebagai penggemar rahasia. Kini aku menyebutnya cinta pada bayangan, kalian pasti tahu bagaimana wujud bayangan. Ia tidak akan pernah menyatu dengan kita. Begitulah cinta yang akan ku ceritakan kali ini. Mencintai seseorang yang bahkan tidak bisa kau sentuh wujudnya. Bukan karena kita berbeda alam, tapi karena ia bukanlah milikmu lagi. Sebuah cinta terlarang yang dapat menyebabkan pihak lain tersakiti hanya karena sebuah pengakuan. Memang sangat sakit mempertahankan perasaan yang kita tahu dengan baik tak akan pernah bisa terbalaskan. Tapi mengalah adalah yang lebih baik, karena hanya kamu yang tersakiti tanpa perlu orang lain juga merasakan. Terutama orang yang sangat kamu cintai. 



Cinta Bayangan

malam ini aku merindukanmu
walau tak pernah sekalipun kau tahu
bersama air mata yang hadir di mimpiku
kuhapus segera kala ingat takdirku

bagaikan purnama yang sedang merindu
menanti mentari tuk bisa bertemu
walaupun  harap tak sekalipun hentikanku
kumasih duduk termenung dalam sendu

menatap rekam bahagia sosokmu
yang tertawa bersama teman baikku
bergandeng tangan seolah menyatu
saling membisikkan  cinta di depanku

akulah sang aktor kala itu
berpura-pura tersenyum melihatmu
padahal aku tahu aku terluka olehmu
akulah orang yang ingin terlihat tegar selalu 

menatap dengan tawa membisu
berkata seolah aku bahagia melihatmu
dan berusaha untuk menata hatiku
tuk menyadari kau bukan milikku





Jumat, 09 Februari 2018

Kubiarkan Ia Tergores

Kadang kala dunia ini begitu menakutkan. Ketika sebagian orang tak pernah mengerti akan sesama. Mereka diciptakan dalam wujud sama, tak ada sedikitpun perbedaan. Tapi entah, banyak yang memilih untuk berada pada kelompok-kelompok tertentu. Mungkin baik jika kamu berada pada kelompok manusia yang saling peduli. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang tak bisa diterima dikelompok manapun. Betapa sangat kesepiannya dia, hanya berteman kesendirian dan bercerita hanya pada tangisan. Betapa sangat jahatnya mereka-mereka yang membiarkan seseorang tak memiliki teman, hanya karena mereka berbeda. Entah mengapa mereka bisa mengetahui arti perbedaan, jika kita semua sebenarnya sama. Lalu apa yang memicu munculnya sebuah perbedaan? Ya. Itu hanya persepsi dari manusia sendiri. Kadang kala seseorang yang memiliki hobi dan kesukaan akan hal yang sama akan membentuk sebuah kelompok. Dan apabila ada seseorang yang hobi maupun kesukaan mereka bertentangan, maka tidak akan bisa masuk kelompok mereka. Tidak adil memang. Tapi itu realita.


Namun dari banyaknya kelompok yang memperhatikan kriteria-kriteria khusus yang mampu membuat seseorang menjadi salah satu anggota. Ada pula kelompok-kelompok lain yang mau menerima segala macam manusia dalam kelompoknya. Entah mereka memiliki banyak perbedaan, seperti hobi, kesukaan, bahkan kepercayaan. Walaupun jumlahnya yang tidak sebesar kelompok-kelompok lainnya, tapi mereka sangat perlu untuk diperhatikan. Patut untuk dicontoh, karena sebuah sikap toleransi jaman sekarang sulit sekali ditemukan. Hanya masalah sepele, banyak kericuhan dimana-mana yang disertai pula adanya kekerasan yang memakan nyawa. Kenapa begitu gampangnya menghilangkan nyawa seseorang hanya karena kita menganggapnya berbeda? Padahal kita sama-sama diciptakan, bukan seorang pencipta. 

Kamis, 08 Februari 2018

Seruput Kisah Secangkir Kopi


ketika secangkir kopi mampu menyumbang kata dalam cerita
mungkin pahitnya tak lagi terasa
hanya serpihan indah mampu mengusir dahaga
dalam gelapnya malam yang perpenjara dinginnya rindu
dia pun berbicara

di sela seruput hangatnya
dan dengan hembus nafas yang terpatah-patah
dia kembali bergumam
menyebut nama seseorang,

bukan yang biasa mereka dengar
ini tentang pengalaman seorang penggemar
dengan senjata bisu tanpa peluru
membidik dengan diam, hanya berbekal keyakinan
tapi dia tak pernah memaksa

karena hanya dengan bersama, dia bahagia

Selasa, 23 Januari 2018

Selamat Malam


malam ini aku ingin bercerita padamu, bukan tentang cinta atau tentang rindu
malam ini aku ingin berbagi denganmu, bukan dengan hati dan kasihku
malam ini aku ingin berkata padamu, bukan dalam suara atau dalam pesan

malam ini aku ingin bersama denganmu, bukan dengan status atau dengan ikatan
malam ini aku ingin berlari padamu, bukan mencari maupun menemuimu
malam ini aku ingin bermimpi tentangmu, bukan hanya hari ini tapi banyak hari lagi
malam ini aku ingin berucap padamu
selamat malam
dan semoga mimpi indah

Senin, 22 Januari 2018

#Dilan Rindu itu Berat


Bener kata Dilan.. Jangan rindu. Berat. Iya.. emang berat. Apalagi yang dirindukan sudah jadi milik orang. Tapi jangan pernah salahkan rindu, karena akan memberikan kesan yang lebih pada pertemuan yang dinantikan.

Aku sedang rindu. Rindu pada teman? sahabat? atau hanya kenalan? teman dekat mungkin? tapi yang jelas pacar orang.. haha. Aku rindu berat. Pada polah tingkahnya, kekonyolannya, humornya, dan tawanya yang khas. Aku mungkin terlalu berharap, tapi entah mengapa aku merasa bukan hanya aku satu-satunya yang merindunya. Hatiku berkata dia juga rindu. Tapi mungkin sedikit. Tapi setidaknya rindu. Ya.. tak apalah..

Aku rindu. Tapi hanya bisa membaca history percakapan yang nggak pernah jelas, dan nggak pernah membuatku bosan. Sebenarnya aku ingin mengiriminya pesan. Takut. Iya.. karena bisa jadi dia sedang bersama kekasihnya. Dari pada menghiraukan pesanku yang memang tidak untuk diprioritaskan lebih baik memandang senyum orang yang di cintainya.

Banyak orang yang sangat bahagia karena liburan tiba. Tapi aku tidak. Entah.. aku merasa kehilangan. Aku merasa rindu. Yang kata Dilan itu berat. Aku ingin tak ada liburan, agar aku bisa terus bersamanya dan selalu ada alasan untuk saling berkirim pesan. Walau hanya sebatas tugas kuliah.

Apalagi ketika mengingat aroma parfumnya. Ah.. betapa berdosanya. Mengapa aku begitu tega memiliki perasaan pada orang yang bukan milikku. Apakah aku egois?? yang hanya menikmati kebersamaan dengannya. Menikmati dengan bahagia. Padahal di tempat yang berbeda seorang pemilik sedang menantikan kepulangannya.

Apakah salah? Aku harap tak ada yang salah. Karena aku juga wanita. Dan aku juga ingin mencinta. Kayak lagu aja.. ekekeke..  Tapi sudahlah, aku hanya harus tetap dalam diam dan menikmati setiap kesempatan bersama dia. Dia.. milik seseorang.

#Promise


"Tidak pernah kautahu kamu akan jatuh cinta dengan siapa. Tidak pernah kaumampu menebak kauakan memberi hatimu pada siapa. Karena teka-teki dari cinta seringkali memberi kejutan dan kejaiban yang sulit kamu bayangkan"__ #Promise @dwitasaridwita

Seperti kutipan di atas, semua yang berhubungan dengan cinta tak bisa ditebak. Yang awalnya bahagia bisa jadi menyedihkan. Yang awalnya menyedihkan biasanya akhirnya bahagia. Bahkan ada pula yang menyakitkan dari awal hingga akhir. Entah, harus bagaimana lagi untuk mendeskripsikan cinta. Apalagi untuk cinta yang hanya diketahui dirinya dan Tuhan. Orang menyebutnya cinta dalam diam, ketika mengagumi tapi tak mengucapkan. Sangat sakit pastinya cinta yang seperti itu. Tapi tidak jarang juga bisa berakhir bahagia, ketika yang dikagumi ternyata juga menyimpan rasa. Ah.. betapa bahagianya..

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...