Sabtu, 30 September 2017

Arlanta


Di balik bukit salju merah jambu, Ada desa mungil nan cantik. Aroma coklat tersebar di mana-mana. Aliran sungai vanila membuatmu ingin berenang di sana. Sesosok gadis dengan jubah pelangi duduk membisu di bawah pohon kismis. Ia terlihat sedih, sorot matanya seperti kehilangan. Adalah Rens, putri dari seorang penyihir yang terkemuka di negeri Arlanta. Entah apa gerangan yang membuatnya begitu murung. Hingga warna pelangi jubahnya berubah menjadi mendung kelabu. Lalu nyamuk kecil bernama Bloody menyapa pelan. Si gadis tak menggubris sama sekali. Kemudian datang Frogos si katak yang membawakan secawan air vanila yang termanis untuk si gadis. Tapi dia tetap diam, dan matanya semakin meredup. Kini Timtim si belalang juga menghampiri gadis itu. Tak menyapa, maupun memberi hadiah. Dia hanya menatap kosong ke arah si gadis. 

Menit berganti jam, dan matahari hampir tenggelam. Si gadis tetap teguh dalam diam. Bahkan saat kini ia sendiri, tak ada suara lagi selain desah nafasnya. Apakah yang sebenarnya terjadi?? Jubah si gadis juga telah menjadi gelap, tanpa bulan maupun bintang. Hitam, kelam, dan kosong. Jika saja ia berani, ia tak akan membisu. Jika saja ia mengaku, ia tak akan semenyedihkan ini. Kini dia hanyalah dia. Tak ada lagi yang harus menemaninya. Sang penyihir telah tiada. Andai permen perak tak tertelan di sana. 

Hati yang Berputar

“Tania.. sini?” teriak gadis berambut panjang sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya. Namanya Cia, aku kenal baik dengan dia. Dia teman satu divisi di OSIS. Aku hanya melempar senyum dan berlari ke arahnya. Dia membalas senyumku dengan ramah. Ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, tepatnya kini sudah penjurusan. Aku masuk jurusan IPA, dan di tempatkan di kelas nomor 4. Isi kelasku sangat terlihat baru, aku bersyukur Cia satu kelas denganku setidaknya aku bisa punya teman ngobrol. Sebenarnya aku senang masuk jurusan IPA, jurusan yang sangat aku inginkan. Tapi sedihnya, aku tidak lagi sekelas dengan teman-temanku kelas 1 dulu dan tidak sekelas lagi dengan sahabat pertamaku di SMA. Dimas. Karena dia masuk jurusan IPS, tapi tak apalah yang penting kita masih sering bareng-bareng. “Hei.. kok jadi bengong?” teriak Cia tepat di telingaku. Aku hanya gelagapan menanggapinya. Di membalasku dengan tawa penuh ejekan. Dia sangat nyaman di sini, mungkin karena sudah banyak yang dia kenal dan dia juga tipe orang yang super aktif, kebalikan dari sifatku yang kurang cepat beradaptasi. “Hai” suara seseorang di belakang tempat dudukku. “Hai” dia mengulang lagi sambil mencolek pundakku. Sontak aku langsung menoleh. Tepat saat itu dia tersenyum padaku. Sangat ramah. Atau bisa dibilang sangat lembut. “Hai.. aku Rey. Kamu Tania kan?” katanya masih dengan senyum yang bagiku lumayan manis lah. “Loh.. kok tau namaku?” jawabku agak kaget. “Ya taulah. Orang cewek berisik di sebelah kamu tadi manggil kamu Tania” katanya lagi, tapi kini disusul tawa ringan. Aku hanya ikut tertawa. Lucu juga cowok ini. Batinku.

Saat jam pulang sekolah, aku menunggu Dimas seperti biasa di parkiran. Karena rumah kita searah, jadi Dimas memaksaku untuk menemaninya. Biar nggak di kira jomblo katanya. Sebenarnya tadi Cia menemaniku, tapi karena mamanya sakit jadi dia harus buru-buru pulang. Sebenarnya aku paling benci menunggu. Tapi mau gimana lagi, naik bus juga nggak berani kalau sendiri. “Kok belum pulang?”. Aku langsung mendongak. “Oh.. Rey, iya nih. Masih nunggu temen” jawabku sambil kembali memainkan ponselku. “Temenmu kelas apa? Kok belum keluar-keluar” katanya lagi sambil duduk di sebelahku. “Anak IPS, IPS 2” jawabku lagi. “Ohhh.. tadi sih aku liat masih ada guru yang ngajar. Tapi mungkin habis ini udah keluar” katanya sambil meraih ponsel di sakunya. “Semoga saja” jawabku agak malas. Sebenarnya malasku bukan karena dia, tapi karena kelamaan nungguin si Jerapah bodoh Dimas. “Eh iya.. boleh minta….” belum selesai aku mendengar ucapannya. Suara yang membuat kesalku agak mereda terdengar. “Hai.. Kelinci bulet. Udah lama ya nunggunya?” katanya dengan senyum sok manis. “Lama banget. Capek tau nungguin” jawabku pura-pura ngambek. “Iya iya maaf.. tadi gurunya banyak omong sih” katanya sambil mengusap kepalaku. “Bodo” jawabku tambah kesal. “ Jangan ngambek dong. Hari ini dapet es krim coklat deh kalau nggak ngambek lagi”. Dimas selalu berhasil membuatku tidak jadi marah padanya. Aku langsung senyum lebar yang disambut cubitan lembutnya di hidungku. Lalu kami berjalan berdampingan ke motornya Dimas. Di perjalanan pulang aku menyadari sesuatu. “Astaga” teriakku kaget. “Kenapa? Ada yang ketinggalan?” sahut Dimas agak khawatir. “Enggak, tadi aku lupa pamitan sama temenku yang tadi nemenin aku nunggu kamu. Duh jadi nggak enak. Padahal dia tadi belum selesai ngomong” gerutuku menyalahkan diri sendiri. “Oh cowok tadi temenmu. Pantesan dia ngeliatin kita terus” katanya ambil tertawa. “Ngambek beneran tau” jawabku sambil memukul helmya. Dia hanya mengaduh sambil tertawa kecil.

Esoknya saat sampai di kelas, aku langsung mencari sosok Rey. Bangkunya masih kosong. Sepertinya dia memang belum datang. Aku langsung duduk di bangkuku sambil membaca novel. Cia hari ini absen karena harus menemani mamanya di rumah sakit. Jadi aku duduk sendiri. Saat aku tenggelam dalam novel, seseorang terlihat duduk di bangku Cia. Aku mendongak. “Pagi” katanya sambil tersenyum. “Pagi Rey” jawabku sambil membalas senyumnya. “Oh iya Rey, sorry ya kemarin aku nggak sempet pamitan sama kamu gara-gara si Jerapah bodoh” kataku lagi sambil memasang muka kesal. “Santai aja.. nggak papa kok. Ngomong-ngomong si Jerapah bodoh? Maksudnya pacar kamu yang kemarin?” katanya terkekeh. “Amit-amit pacaran sama dia. Kami cuma sahabatan Rey. Itu juga udah musibah” kataku sambil tertawa. Dia hanya ikut tertawa. “Oh iya, kamu kemarin mau ngomong apa?” tanyaku lagi. “Oh.. enggak, cuma mau minta pin BBM aja. Kita kan sekelas jadi penting punya kontak teman satu kelas” jawabnya sambil kembali tersenyum. Apa hobinya emang senyum ya. “Oh.. iya nih” kataku sambil menunjukkan pin-ku padanya. 

Semenjak itu kami jadi sering ngobrol di kelas, dia juga sering mengirim pesan. Bahkan rutin telepon setiap malam. Semakin hari kita semakin dekat dan aku mulai merasakan sesuatu yang aneh saat aku bersama Rey. Hari berganti bulan, hubunganku dengan Rey semakin dekat. Tapi masih belum terlepas dari kata teman. Dan perasaanku semakin besar, hingga aku berani berharap. Rey selalu menunjukkan sikap lembut dan berbeda kepadaku. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda status teman bergerak naik satu level. Aku bimbang, aku tidak ingin berharap tapi aku juga tidak bisa lari dari tatapan lembutnya, dari senyum manisnya. Hubunganku dengan Dimas juga semakin renggang, saat aku memberi tahunya tentang peraaanku kepada Rey. Aku nggak tau kenapa Dimas jadi berubah, bukannya emang tugas sahabat untuk berbagi. Apa aku salah jika aku mencurahkan isi hatiku pada sahabatku sendiri. Dimas sangat menyebalkan.

“Dim!” teriaku saat melihat Dimas duduk sendiri di depan kelasnya. Semenjak aku dekat dengan Rey, aku tidak lagi pulang bersama Dimas. Karena Rey selalu mengajakku jalan-jalan sepulang sekolah. “Dimas!” ulangku lagi. Dia tetap diam, seolah pura-pura tidak mendengarku. “Kamu kenapa sih? Kamu beda sekarang, kamu nggak asik” kataku yang kini sudah berada di sampingnya. Dia tetap diam. Aku melihat sosok asing di mata Dimas. “Dim.. kamu kenapa sih? Jawab dong. Aku salah apa sih sama kamu” teriakku sambil menggoyang-goyang tangannya. Dia langsung memegang tanganku, genggamannya kuat, tatapannya sangat tajam. “Apa sih Dim. Sakit tau” teriaku sambil berusaha melepas genggamannya. Genggaman itu begitu kuat, sekuat tatapan matanya. Aku hanya diam menatapnya. “Kamu ingin tau kesalahanmu?” katanya lirih tapi tatapannya masih tajam. Aku hanya mengangguk. Aku takut. Ini tidak seperti Dimas yang aku kenal selama ini. “Karena kamu bandel. Kamu bandel Tania” katanya lagi. Aku membalas dengan tatapan tak mengerti. “Rey, cowok yang kamu suka, yang bahkan kamu bilang kamu mencintainya. Dia itu cowok brengsek” katanya sambil melemaskan genggaman tangannya. Aku langsung menarik tanganku dan meletakkan tamparan di pipinya. Dia terkejut. “Kamu nggak usah sok tau” teriaku sambil berlalu meninggalkannya. Bagaimana bisa dia bilang Rey brengsek. Aku udah lama kenal Rey, dan dia sangat jauh sekali dari tipe seperti itu. Aku benar-benar marah pada Dimas. Aku benci dia. Aku kecewa padanya. Bagaimana mungkin sahabat bisa setega itu. Dia bahkan tidak kenal Rey.

Setelah pertengkaran itu, aku tidak lagi peduli dengan Dimas. Dan yang paling menyenangkan, kini hubunganku dengan Rey sudah bukan hanya teman maupun teman dekat. Kini kita resmi pacaran. Dia menyatakan perasaannya saat aku diundang ke pesta ulang tahunnya. Dia mengatakan mencintaiku di hadapan banyak orang termasuk orang tuanya. Betapa romantisnya dia. Dan betapa aku merasa berharga baginya. Sekarang aku bisa buktiin kalau kata-kata Dimas itu tidak benar. Aku dan Rey selalu bersama ke manapun, sampai-sampai teman sekelasku menjuluki kami lem dan perangko, lengket terus.

Sudah hampir 3 bulan hubunganku dengan Rey, dan hampir 3 bulan juga pertengkaranku dengan Dimas belum selesai. Sebenarnya aku sudah memaafkan Dimas, dan aku sering merindukannya. Tapi dia selalu menghindariku. Dan aku mendengar kabar dari teman sekelasnya, kalau dia pacaran dengan salah satu teman sekelasnya. Aku ikut senang. Ternyata masih ada yang mau dengan Jerapah bodohku. “Sayang.. makan yuk. Laper” katanya dengan manja. “Iya sayang.. yuk” jawabku menyambut tangannya. Kita lalu menuju kantin, sepanjang jalan dia masih menggenggamku. Seakan takut kehilanganku. Aku sangat bahagia. Dan aku sangat mencintai Rey. Saat sampai di kantin aku melihat Dimas duduk bersama seorang cewek. Mungkin itu pacarnya. “Hai Dim..” sapaku saat melewati mejanya. Dia tetap diam tanpa menatapku, akhirnya cewek di sebelahnya yang menyambut sapaanku dengan senyum. “Sayang.. kamu pesan apa?” teriak Rey. Aku langsung berlari ke arahnya dan meninggalkan Dimas yang masih diam. Setelah makan siang itu, aku terus memikirkan Dimas. Apa dia benar-benar marah padaku. Tapi kan dia yang salah, seharusnya aku yang masih marah. Ah sudahlah. Dia memang menyebalkan. 

Kini sudah memasuki tahun ajaran baru. Aku senang dan sekaligus sedih. Senangnya aku kembali menjadi juara kelas, tapi yang menyedihkan aku tidak lagi sekelas dengan Rey. Kita di bagi kelas lagi saat kelas 3. Aku di IPA 1 yang merupakan kelas internasional dan Rey tetap di IPA 4. Tapi itu hanya awal, kini semua sama saja. Walaupun aku dan Rey tidak sekelas tapi kita masih ke mana-mana bersama. Dan kini aku semakin yakin padanya. Aku benar-benar mencintainya dan entah sudah berapa banyak cinta yang aku berikan padanya. Tapi aku sangat bahagia. Di kelas internasional, jadwalku semakin padat. Sangat berbeda dengan kelas lain, dan itu membuat jadwal pulang sekolah kami berbeda. Kelas Rey pulang 3 jam lebih awal dari kelasku. Awalnya Rey ingin tetap menungguku, tapi karena aku menolak jadi dia terpaksa pulang duluan. Sebenarnya aku sangat senang jika Rey menunggu, tapi aku takut membuatnya terlalu capek. Toh besoknya kita juga ketemu lagi. 

Sudah setahun lebih hubunganku dengan Rey, aku semakin mencintainya. Tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh dari Rey. Tatapannya sudah tak seperti dulu. Awalnya aku berpikir positif, bahwa mungkin karena dia lelah. Tapi esoknya pun dia tetap seperti itu, kini ia sering sibuk dengan ponselnya daripada mendengarku. Sempat muncul kecurigaan. Tapi aku berusaha menghilangkan pikiran itu. “Sayang.. beli es krim yuk” kataku manja. “Iya ayo” katanya sambil berdiri dan masih terus fokus dengan ponselnya, tanpa melihat ke arahku. “Ponsel terus. Chatting-an sama siapa sih?” kataku kesal. “Temen sayang, jangan ngambek ah. Kayak anak kecil tau” katanya menghiburku, tapi masih fokus lagi ke ponselnya. “Tau ah.. ponsel aja terus” kataku kesal sambil meninggalkannya pergi. Aku berharap saat itu dia akan mengejarku, tapi nyatanya dia masih asyik dengan ponselnya. Aku semakin dongkol, dan pulang tanpa pamit padanya. Malamnya dia meneleponku berkali-kali, tapi tak satupun kujawab. Aku sangat kesal padanya. Saat seperti ini aku merindukan Dimas. Apa kabar dia? Sudah lama sekali aku tak melihatnya. Apa aku coba menghubunginya. Nada sambung terus terdengar, tapi tak ada jawaban apa-apa. Apa dia sudah membenciku. Aku menyesal menamparnya waktu itu. Aku terlalu berlebihan. Aku ingin minta maaf padanya, tapi dia masih tidak bisa dihubungi.

Esoknya Rey tidak masuk sekolah. Kata teman sekelasnya dia sedang ada pertandingan basket. Aku berpikir sejenak. Sejak kapan dia jadi suka main basket. Mungkin karena dia bosan di rumah. Aku jadi merasa bersalah, aku terlalu sering mengabaikannya. Untuk masalah kemarin aku sudah memaafkannya, toh aku juga yang salah. Mungkin aku harus memberinya kejutan, aku akan datang menonton pertandingannya. Mungkin dia akan senang. Aku bisa membawakannya minum dan masakan buatanku, toh pertandingannya masih jam 5 sore. 

Selesai jam pelajaran aku langsung buru-buru pulang ke rumah, menyiapkan masakan buat Rey dan berangkat menuju tempat pertandingannya. Sesampai di sana, aku mencari Rey. Tapi aku belum menemukannya. Padahal aku sudah menyusuri setiap sudut lapangan. Terpaksa aku harus menghubunginya, walaupun ini menjadi tidak surprice lagi. Tapi tak apalah, setidaknya aku ingin minta maaf karena masalah kemarin. Aku mencari ponselku, dan ternyata masih tertinggal di motorku. Aku kembali ke parkiran dengan buru-buru, berharap ponselku belum berpindah tempat. Sebelum sampai parkiran aku mendengar suara yang tak asing di telingaku. “Sayang.. masakan kamu enak deh. Kamu pinter banget” itu suara Rey. Dan kemudian di susul suara tawa perempuan. Mendadak seperti ada ribuan batu yang menghantam dadaku. Rasanya sakit sekali. Aku bergegas mencari asal suara itu. Lalu terlihat seorang perempuan memakai kostum basket duduk di sebelah Rey sambil meletakkan kepalanya di bahunya. Seketika itu pula darahku berhenti, dan makanan yang aku persiapkan untuk Rey tak bisa kugenggam lagi. Kotak makan itu jatuh. Suara itu membuat Rey dan perempuan itu menoleh, aku langsung berlari meninggalkan mereka, Rey dengan wajah kaget berusaha mengejarku. “Tania.. Sayang..” teriaknya. Aku masih tetap berlari, aku tidak ingin mendengarnya. “Dengar dulu.. aku bisa jelasin. Dia itu temenku, cuma temen” jelasnya. “Temen macam apa yang kamu maksud? Kayak gitu kamu bilang temen, pantesan kamu akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan ponselmu. Dan sejak kapan kamu suka basket? Ternyata itu alasannya” teriakku sambil terisak. “Maaf sayang.. begini.. aku bisa jelasin ke kamu, tapi dengerin aku dulu” katanya sambil menggenggam tanganku. “Itu semua udah jelas Rey, nggak ada lagi yang perlu dijelasin. Kita putus” kata terakhir itu membuat jantungku seakan berhenti. “Sayang, tolong beri aku kesempatan. Ini nggak seperti yang kamu kira. Aku masih mencintaimu” katanya memohon. “Ternyata benar kata Dimas, kamu brengsek” aku langsung pergi meninggalkannya yang masih terdiam karena tamparanku. 

Aku menaiki motor tanpa arah. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku berhenti di bawah pohon besar, aku menangis sejadi-jadinya di situ. “Tania?” suara seseorang yang kurindukan. “Hei! Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan? Ada yang sakit? Kamu jatuh? Ada yang ngapa-ngapain kamu? Kamu kenapa? Jawab aku! Jawab aku Tan!” suara itu bertubi-tubi menghujaniku dengan pertanyaan. Wajahnya terlihat sangat pucat. Aku tak menjawab dan langsung memeluk Dimas. Aku menangis di pelukannya. Dia membelai rambutku, menenangkanku. “Kamu benar Dim, Rey itu brengsek” kataku sambil keluar dari pelukannya. “Aku kan sudah bilang dari dulu, tapi kamu bandel” katanya lembut sambil mengusap air mataku. “Aku dulu ingin memberi tahumu banyak hal tentang dia, tapi kamu malah pergi dan meninggalkan bekas tangan di sini” dia menunjuk pipinya sambil tersenyum. “Maafin aku Dim” kataku lirih. “Aku juga minta maaf. Sebagai sahabat aku seharusnya menyelamatkanmu, bukan malah mendiamkanmu selama ini. Maafkan Jerapah bodoh ini ya Kelinci buletku” katanya sambil menggenggam tanganku. Aku hanya tersenyum dan kembali memeluknya. Pelukannya sangat nyaman, ini yang selama ini sangat kurindukan. “Kita masih sahabatan kayak dulu kan” kataku masih dalam peluknya. “Aku sih nggak mau. Aku takut nggak bisa jagain kamu lagi” katanya sambil tertawa. Aku langsung melepas pelukanku dan memasang wajah takut. “Aku ingin lebih dari itu Tan.. Aku sayang kamu, lebih tepatnya aku mencintaimu” katanya sambil menatap lembut mataku. Ucapannya terasa hangat, sampai membuat hatiku berdegup tak karuan. “Dasar Jerapah bodoh, bisa-bisanya kamu menggodaku. Aku tau kamu cuma bercanda. Kamu sudah punya pacar” jawabku kesal. “Aku seriuh Tan.. aku mencintaimu jauh sebelum persahabatan kita dimulai. Aku serius. Dan siapa bilang aku punya pacar?” kini aku menangkap ketegasan dari kata-katanya. Aku tak melihat lelucon di mata bulatnya. “Temenmu sekelas. Dan cewek yang di kantin waktu itu bukankah itu pacar kamu?” kataku lagi. Dia tertawa “Itu bohong. Cewek yang di kantin itu pacarnya temenku” katanya sambil tertawa geli. Aku membalas dengan tersenyum malu. “Tan.. aku beneran sayang kamu, aku cinta kamu. Aku nggak ingin kamu terluka lagi. Aku ingin benar-benar menjagamu” katanya kini dengan sangat serius. “Dasar Jerapah bodoh. Kenapa nggak bilang dari dulu sih? Dasar bodoh” teriakku sambil kembali menangis memeluknya. Kini dengan tangisan bahagia. 

Terkadang hati perlu berputar, mencari seseorang yang mampu mengisi bagian dalam puzzle kehidupan. Mengarungi manis pahitnya peristiwa, suka dan duka kisah cinta. Hingga kembali menemukan pasangan yang tepat. Dan puzzle itupun kini telah lengkap. Dengan untaian kata cinta, yang dimulai dari indahnya persahabatan. Selesai.
               


Cinta dalam Perbedaan


saat berdiri di persimpangan
aku melamun penuh gundah
kamu menatap kosong tak terarah
hanya diam yang menyelimuti kata

saat kitab suci yang kita baca tak sama
ketika tempat ibadah kita berseberangan
seakan hati berdiri di ujung kehancuran
retak tak akan bisa di cegah

hanya berjuang atas nama cinta
tak ada restu apalagi ikat
ribuan mulut sibuk mencerca
caci maki terus terlontar

semakin lama cinta semakin kuat
tapi hina dimanapun menghantui
bahkan perbedaan mematikan rasa
kala keyakinan memupus harapan

ucapan doa yang tak sama
bukan satu waktu ketika beribadah
tak searah bahkan hari raya
dan sirna kala tertentang

Jumat, 29 September 2017

Fatamorgana Cinta


Fajar telah lama menari
Akankah cinta datang kemari
Taukah kasih semua sunyi
Andai dirimu tak pergi
Masih teringat gambar pagi
Ombak riak nan tersaji
Rasa insan tak berbagi
Gelora rindu terus mencari
Apalah diri hanya ilusi
Nampak elok dalam elegi
Asa jiwa meratap hati

Cinta ini tak menjadi
Ibarat diri sepasang merpati
Namun luka tak menghampiri
Tapi semua bak mimpi
Aku kini tetap sendiri

Siapa Aku?

Menulis dan membaca adalah hobiku dari kecil. Entah apa yang membuatku sangat menyukai hal yang mungkin kebanyakan orang menganggapnya sesuatu yang membosankan. Tapi sungguh, hal itu beda dengan apa yang kurasa. Dengan menulis aku bisa bercerita, walaupun hanya dengan benda mati. Tapi bagiku mereka hidup, bolpoin kadang menari, kertas kadang bersenandung, sampai keyboard laptop berteriak riang. Dengan menulis juga aku bisa merasa lega, aku bisa menumpahkan keluh kesah. 

Tentang cinta yang indah, tentang cinta terpendam, hingga tentang persahabatan. Aku selalu suka meluangkan waktu di sela-sela tumpukan tugas kuliah, hanya untuk menulis. Aku tak tau kapan inspirasi datang, jadi aku tidak bisa mengatakan kapan biasanya aku menulis.

Menjadi penulis memang cita-citaku, dan aku akan berusaha mewujudkan hal itu. Ini hanya sebagian kecil usahaku, ini tempatku terus belajar. Tempatku untuk semakin mesra dengan kata. Tak pernah terpungkiri juga, membaca karya-karya penulis profesional untuk menyerap inspirasi dan merasakan apa yang mereka rasakan kala menulis kisahnya. Dan selamat membaca.

Kala Jatuh Cinta


andaikan waktu terlambat sejenak
kuakan menunggumu kala itu
sejak terakhir pandangan sosokmu
tak pernah lagi ku terlewatkan

walaupun goresan kata telah meraja
kertas kusut bertebaran ramai
tinta merah telah berganti biru
dan lembaran kosong tak tersisa lagi

memori rimbamu masih mengarat
bagaikan besi yang tak pernah suci
gairah indah pesona kehadiranmu
membuat tubuhku dingin bak dinding

nadi tak mampu lagi berlalu
detak jantung bak estafet kasih
napaspun seperti puluhan cabai beradu
begitulah diri bak pemeran utama

jatuh tapi selalu ingin diulang
tersandung namun tak ingin bangkit
menyeret bagai menari pita
berpapasan seperti merah senja

aku bagai mimpi semalam
ketika tangan tergores sekejap
walaupun sesaat tapi banyak tertinggal
seakan detik itu pun kuhapus

agar semua tak pernah ada
karena kutakut tercerita elegi
bagaikan pedih kisah lalu ku
tak boleh terulang bahkan kembali

Sekilas Pandang


sejenak menepi dari ramainya hari
elok senyummu tak mampu berlari
ketika raga spontan terus menari
ingin selalu bercerita bak jemari

lambaian angin mengiringi setiap kasih
alam sunyi telah melebur perih
sang waktu hilang ataukah masih
padamu indah tatapan diri menagih

andai mata tak sanggup berpaling
namun hati tak ingin mencari
dalam kelam kau bagai mentari
alangkah sejuk bak embun pagi

dapatkah aku mengulang siang tadi

Rindu Terlarang



saat angin menyihir keping rindu
dalam senyap aku bersenandung
lagu merdu bagai melodi syahdu
irama fajar salin sajak kalbu

ibarat rumput yang ingin dipuja
seperti ilalang takkan diminta
akankah rindu mampu terbaca
ataukah hanya rindu terlarang

setiap kata teruntai dilema
panjang namun tak menyampaikan
bisakah diri mematah harap
bahwa kasih tak semestinya ada

bagai burung menari ramai
lalui kisah penghibur diri
sejenak lupa tentang rindu ini
bahkan hanya rindu terlarang

dua insan telah bersama lainnya
tak seperti dulu kala mencinta
ibarat mawar yang akan layu
indah di awal usang kemudian

cerita lalu biarlah berlalu
bukan terlupa hanya teringat
tak salah diri pernah merindu
walau itulah rindu terlarang

Kenangan


aku mengingatmu malam ini
entah mengapa aku merasa sepi
saat dahan gugur di musim semi
kala malam tak sedingin pagi tadi

buai kasih rembulan bak penyihir
lolongan anjing pada rimba menjerit
teringat pada satu nama terintis
kumerenung mendekap hati ini

dan kumulai menjauh sejauh mungkin
berlalu dan tak ingin melamun
kuhentak tanah tempatku berpijak
mencoba menelan senyap di tubuh

alangkah indah ketika itu
memori melesat bak bintang jatuh
membuka lembar demi lembar kertas usang
memancing diri melukis warna

goresan patah tak bermakna
hanya terlihat tapi tak terbaca
membentuk adegan dalam dilema
melampirkan cerita bak nirwana

lalu kumemandang ke belakang
barisan sosok yang lama ku kenal
ada satu yang terfokus di sana
apakah itu dirimu?

kuberjalan perlahan menujumu
rasa tak asing merasuk tubuhku
kugenggam erat kenangan kisah lalu
kala aku mengingatmu malam itu

Misteri


Lama sekali aku terduduk di pojokan gazebo. Melamun sesuatu tak pasti, karena terjebak dalam kebosanan akut. Saat itulah aku melihat sosokmu. Pria berkemeja hitam, dengan tinggi menjulang. Dan pemilik dada lebar, yang mungkin sangat nyaman bila sembunyi di sana. Wajah yang biasa, namun pemilik senyum manis. Itulah awal aku mulai memperhatikanmu. 

Dan kala waktu terus menerus berputar. Aku kembali bertemu denganmu. Bukan lagi di pelataran kampus. Tapi kini di ruang kelas yang sama. Aku sedikit demi sedikit mulai mengenalmu. Mengetahui namamu,  asalmu, hobimu,  dan hal-hal yang kamu suka. Semakin lama kita semakin dekat, saling bercanda, bercerita, dan berbagi tugas. 

Kita terus melangkah, tapi dalam ikatan pertemanan.  Rasa saling peduli, saling berbagi, dan rasa menyayangi berhambur di setiap langkah kita. Sifatmu yang terlalu jaim, membuatku merasakan ada benteng besar yang menghadang kita. Walaupun kita berjalan bersama, tapi rasanya kau ada di ujung sana. Apalah kata?  Semua hanya cerita. Tentang jemari yang tidak sabar menari. Di sini semua tersaji.  

Apa kamu?


Ketika kamu merasakan kegelisahan tanpa alasan, taukah apa sebabnya? Ketika kamu merasakan kekacauan dalam hatimu, taukah apa sebabnya? 

Seperti kutipan dalam salah satu novel Tere liye "Hidup adalah sebab akibat". Dimana setiap kamu merasakan alunan kehidupan, kamu akan tau alasan kenapa semua itu terjadi. Begitu juga ketika kegelisahan dan kekacauan menggelayutimu, selalu ada alasan untuknya bergantung. Apa itu kamu? Sesosok pemuda dengan  kumis tipis di dua sisi bibir merah jambunya. Senyuman yang semu dan kisah yang samar beradu. Apa itu kamu? Sosok yang belum tentu aku tau. Biarlah.

Hai..


Hai kamu, cowok dingin yang duduk dipojok kelasku. Berhenti membuatku memperhatikanmu. Jangan membuat pandanganku beralih padamu. Berhentilah membuat konsentrasiku buyar. Mata tajammu itu yang menghantuiku. Mengingatkanku betapa buasnya pesona dirimu. Mata itu seolah menusukku. Sangat tajam, bagai pedang menghunus hatiku. Jangan lagi membuatku penasaran karenamu.

Matamu mencipta kebohongan luarmu. Aku ingin mengerti dirimu. Tapi aku sangat takut tertarik olehmu. Hai.. siapa namamu?  aku tau tapi aku tak berani mengingatnya. Aku takut kamu tak bisa lenyap. Tak bisa hilang. Bahkan selalu mengganggu hariku. Sosokmu tak seperti lainnya. Asal kamu tau, kamu itu berbeda. Berbeda yang membuat setiap nafasku menengok padamu. Bahkan ketika kamu tak terlihat oleh mataku. Tapi hatiku merasa hadirmu. Entah, sudah berapa besar aku mengagumimu?  Aku bahkan tak tau kapan dimulai?  Andai kamu bisa memberiku jawaban. Aku takkan lagi gundah seperti ini. 

Untuk Fra, Sekali Lagi

Sudah lama aku berjanji tak akan menulis tentangmu lagi, tapi setiap kali hujan jatuh di awal Oktober, namamu selalu lolos dari ingatanku ya...