Cukup sampai di sini saja kisahnya. Jangan meminta lagi tentang rasa. Karena semua sudah tak ada. Kini tinggal masing-masing mengukir cerita. Berbeda tentu saja. Dan untuk orang yang tak sama. Karena kini waktu mulai bicara. Pada embus angin yang rela. Di balik gunung ini, kisah kita mulai berawal. Dan kuingin, kisahnya tak akan berakhir. Tapi takdir berkata lain. Hingga hari ini pun datang, hari dimana semua kisah harus diakhiri. Tapi satu yang harus kamu ketahui disini ada hati yang selalu bersamamu. Dan mulai sekarang, biarkan waktu yang meneruskan bagiannya. Andai saja waktu dapat aku putar kembali, aku ingin kisah ini takkan pernah berakhir secepat ini, walaupun harus berakhir biarlah berakhir dengan semestinya. Sudah banyak kisah yang telah dilalui, sekarang giliranku untuk mengenang cerita ini. Kisah yang dimana kau dan aku hampir menjadi KITA. Karena hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau m...
Asap kopi hitamku memenuhi ruangan mungil di perempatan jalan dekat lapangan sepak bola. Aku selalu menghabiskan malam hanya untuk bercengkerama dengan sekawanan kafein ini. Letih yang kuhadapi seharian langsung lenyap oleh tawa riangnya, aromanya yang khas mampu membawaku ke dalam sejuknya malam. Kini aku masih dalam rutinitas yang sama, sendiri menatap sisa-sisa adukan yang diciptakan oleh si pembuat. Di balik asap mengepul kopiku, aku melihat sosok yang tak biasa, rambut hitamnya menari di hempas angin malam. Di bawah remang lampu warung, aku mulai mencuri pandang padanya. Dari tempatku berada, dapat kulihat samar warna kelabu kemejanya, dengan celana kain hitam dan sepatu cokelat tuanya. Ia duduk tenang, sambil menatap teduh layar ponselnya. Saat secangkir pesanannya datang, ia baru tersadar. Senyumnya yang seperti dipaksakan terlihat jelas dari meja tempatku berpijak. Kini dapat kulihat warna matanya, begitu gelap, segelap tatapan matanya. Walau kini ada sendu di sana...
Bener kata Dilan.. Jangan rindu. Berat. Iya.. emang berat. Apalagi yang dirindukan sudah jadi milik orang. Tapi jangan pernah salahkan rindu, karena akan memberikan kesan yang lebih pada pertemuan yang dinantikan. Aku sedang rindu. Rindu pada teman? sahabat? atau hanya kenalan? teman dekat mungkin? tapi yang jelas pacar orang.. haha. Aku rindu berat. Pada polah tingkahnya, kekonyolannya, humornya, dan tawanya yang khas. Aku mungkin terlalu berharap, tapi entah mengapa aku merasa bukan hanya aku satu-satunya yang merindunya. Hatiku berkata dia juga rindu. Tapi mungkin sedikit. Tapi setidaknya rindu. Ya.. tak apalah.. Aku rindu. Tapi hanya bisa membaca history percakapan yang nggak pernah jelas, dan nggak pernah membuatku bosan. Sebenarnya aku ingin mengiriminya pesan. Takut. Iya.. karena bisa jadi dia sedang bersama kekasihnya. Dari pada menghiraukan pesanku yang memang tidak untuk diprioritaskan lebih baik memandang senyum orang yang di cintainya. Banyak orang yang...
Komentar
Posting Komentar